SUMEDANG – Pembangunan pabrik di wilayah Desa Sawahdadap tepatnya di Kawasan Industri Dwi Papuri (Jarum Super), Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang tak berjalan mulus.
Pasalnya, warga Desa Sawahdadap merasa keberatan dengan berjalannya proyek pembangunan pabrik tersebut karena pihak PT Mustika Siliwangi Lestari (MSL) dianggap tak bisa diajak bekerjasama.
Menanggapi hal tersebut, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Desa Sawahdadap, Inka Zakiyah menyampaikan, kesepakatan dua belah pihak antara warga dengan PT MSL sudah dibicarakan bersama.
Baca Juga:Ribuan Pedagang di Cimahi Diguyur Bantuan Tunai Rp 1,2 JutaMojang Jajaka Jabar Asal Depok Diharapkan Mampu Promosikan Wisata Lokal
“Pembicaraan soal ini cukup alot, dan ini bukan yang pertama. Jadi ini pembahasan yang ketiga kalinya,” kata Zakiyah kepada Jabar Ekspres di GOR Desa Sawahdadap, Sabtu (9/10).
Menurut Zakiyah, demi kelancaran dalam proyek pembangunan pabrik, PT MSL perlu memenuhi beberapa poin yang diminta oleh warga setempat.
“Kalau pihak PT MSL sepakat, warga juga justru mendukung proyek pembangunan tersebut,” pungkas Zakiyah.
Diketahui, dari beberapa usulan yang diminta oleh warga, sebagian sudah disepakati PT MSL salah satunya mempekerjakan masyarakat lokal dalam proyek pembangunan.
Kendati demikian, warga Desa Sawahdadap masih merasa keberatan karena salah satu usulan mereka ditolak atau tak diterima oleh pihak PT MSL.
“PT MSL tidak mau menerima kerjasama penyediaan bahan baku bangunan berbahan alam, karena kata mereka (PT MSL) sudah ada kontrak kerjasama dengan pihak penyedia bahan baku lain di luar daerah sebelumnya,” imbuh Zakiyah.
“Diajak kerjasama dengan pengusaha putra daerah menolak. Kemudian diajak kerjasama dengan BUMDes pun menolak, dengan berbagai alasan yang prematur,” tambahnya.
Baca Juga:Pohon di Cimahi Akan Diperiksa Kondisinya, Ini AlasannyaSambangi Cimahi, Wakil Menteri Budi Arie Sampaikan Kabar Gembira
Penolakan kerjasama oleh PT MSL dengan warga Desa Sawahdadap itu pun menimbulkan polemik yang dikhawatirkan dapat menjadi kendala dalam proyek pembangunan pabrik karena terdapat penolakan dari masyarakat lokal. (mg5)
