”Ini baru data nasional. Perlu melihat keseharian masyarakat. Kita perlu melihat, merasakan langsung, apa yang terjadi di lapangan. Kasus kesakitan maupun kematian yang sangat bervariasi antardaerah,” paparnya.
Ujung dari performa pengendalian di level kabupaten/kota adalah konsistennya indikator-indikator pengendalian. Misalnya tes yang mencapai standar, tracing 1 per 15 kontak, serta penerapan 3T dan 3M yang kuat.
”Harus konsisten. Tidak boleh naik turun,” ujarnya.
Per minggu pertama September, Indonesia memang sudah mencapai benchmark 1 orang dites per seribu populasi per minggu.
Baca Juga:Covid-19 Varian Mu Berpotensi Lebih Mudah MenularLewat IMF 2021, Wagub Bali Harap Masyarakat Tetap Kreatif
Menurut Dicky, itu kali pertama setelah 1,5 tahun pandemi. Namun, selama tes tidak memadai dan banyak kasus tidak terdeteksi, benchmark tersebut tidak bakal berarti. ”Jadi, harus tercapai standar tesnya, 3M dan 3T-nya secara konsisten, baru dikatakan terkendali,” ucap dia.
Setelah itu tercapai pun, lanjut Dicky, selama status pandemi belum dicabut WHO, masyarakat belum bisa beraktivitas dengan aman.
Apalagi, saat ini ada berbagai varian baru yang muncul.
”Tanpa 3T yang kuat, kita menunggu bom waktu potensi gelombang ketiga masih bisa terjadi,” ungkapnya.
Sementara itu, Koalisi Masyarakat Sipil untuk Akses Vaksinasi bagi Masyarakat Adat dan Kelompok Rentan meminta Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengalokasikan vaksin Johnson & Johnson untuk masyarakat adat dan kelompok rentan. Vaksin jenis itu hanya memerlukan satu kali suntikan.
”Khususnya di luar Jawa, akan membuat vaksinasi lebih efisien karena tak perlu dua kali penyelenggaraan vaksinasi,” tutur Direktur Eksekutif Filantropi Indonesia Hamid Abidin.
Koalisi masyarakat, menurut Hamid, sudah bekerja membantu pemerintah melakukan vaksinasi bagi masyarakat adat dan kelompok rentan.
Sejauh ini lebih dari 30 kabupaten/kota di sembilan provinsi sudah divaksin Covid-19. Dari pengalaman itu, menggelar vaksinasi di luar Jawa bukan hal yang mudah.
Baca Juga:Luncurkan Program KEJAR, Karier.mu Dukung Masyarakat Asah PotensiAntara Arsenal dan MU, Conte Dikabarkan Bakal Jadi Nahkodanya
”Faktor jarak, kondisi jalan, hingga sarana transportasi bisa menyurutkan minat warga,” ungkap dia.
Menurut Sekretaris Jenderal Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Rukka Sombolinggi, vaksin Johnson & Johnson lebih cocok digunakan di daerah yang warganya tinggal jauh dari kota. Sebab, akses angkutan kendaraan minim.
Vaksinasi untuk difabel juga perlu mendapat perhatian. Berdasar pengalaman vaksinasi bagi kalangan penyandang disabilitas di Bantul Agustus lalu, kata Rukka, dibutuhkan persiapan sangat panjang, tempat khusus, juru bahasa isyarat, dan tenaga pendamping tambahan.
