Banyak Nakes yang Mengundurkan Diri Karena Insentif Tak Kunjung Cair

Sejumlah tenaga kesehatan berkoordinasi sebelum melakukan perawatan terhadap pasien COVID-19 di Rumah Sakit Darurat (RSD) Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta, Jumat (22/1/2021). ANTARA FOTO/Fauzan/wsj.
Sejumlah tenaga kesehatan berkoordinasi sebelum melakukan perawatan terhadap pasien COVID-19 di Rumah Sakit Darurat (RSD) Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta, Jumat (22/1/2021). ANTARA FOTO/Fauzan/wsj.
0 Komentar

JAKARTA – Ketua Dokter Indonesia Bersatu, dokter Eva Sri Diana Chaniago mengatakan banyak tenaga kesehatan yang resign dari rumah sakit (RS) dan memilih profesi lain di masa pandemi Covid-19. Dokter Eva mengatakan, mereka memilih berhenti karena beban kerja yang berat. Kemudian ditambah insentif dari pemerintah yang cairnya sangat lama.

“Jadi semua karyawan tetap yang bukan PNS (Pegawai Negeri Sipil) sudah banyak yang resign. Karena beban kerja yang berat dan insentif,” ujar dokter Eva kepada JawaPos.com, Sabtu (17/7).

“Banyak yang berhenti dan saya tanya karena beban kerja yang banyak, pasien banyak, dan gaji enggak imbang belum lagi insentif enggak turun-turun. Daripada bertempur perang mending cari makan yang lain buat anak istri,” tambahnya.

Baca Juga:Luhut Didesak Jujur Soal Situasi PandemiKatar Turun Tangan Atasi Penyebaran Covid-19 di Duren Mekar

Menurut dokter spesialis paru ini, bukan hanya para tenaga medis yang mengundurkan diri. Menurutnya ada juga relawan yang memilih untuk berhenti. Karena jumlah tenaga kesehatan dan relawan tidak sebanding dengan banyaknya jumlah pasien Covid-19.

“Jadi ada relawan lama enggak dibayar. Beban kerja yang berat, pasien makin banyak, nakes makin dikit,” katanya.

Dokter Eva menambahkan para perawat juga banyak yang mengundurkan diri lantaran diminta suaminya. Karena pekerjaan mereka sangat berisiko menularkan Covid-19 di tengah penularan yang semakin mengganas.

“Banyak perawat yang disuruh berhenti sama suaminya, karena pulang telat, sampai di rumah bawa penyakit Covid-19. Karena saat ini jarang hanya nakes yang kena. Pasti suaminya kena,” tegasnya.

Bahkan menurut dokter Eva, banyak juga dokter-dokter baru yang juga mengudurkan diri memilih kembali sekolah lagi. Hal ini lantaran jumlah tenaga kesehatan tidak sebanding dengan banyaknya pasien Covid-19.

“Kalau dokter-dokter juga begitu mendingan mereka sekolah daripada mereka kerja mati-matian dan gajinya kecil dan jam kerjanya banyak. Masalahnya kalau gajinya dibanyakin kalau tenaganya terlalu capek juga enggak bisa,” ungkapnya.

Saat ini banyak tenaga medis yang masih bertahan hanya karena tidak punya pilihan lain. Karena di situasi saat ini sulit mencari pekerjaan lain.

Baca Juga:Vaksinasi Berbayar DibatalkanYuk Simak! Cara Dapat Bansos Tunai Rp300 Ribu dan Beras 10 Kg

“Ada yang baru sebulan sudah keluar, jadi mereka yang bertahan itu karena enggak punya pilihan. Enggak punya pilihan mau cari lagi kerja di mana,” katanya.

0 Komentar