Turunkan Stunting, Kepala BKKBN Ajak Belajar dari Peru hingga Etiopia

Turunkan Stunting, Kepala BKKBN Ajak Belajar dari Peru hingga Etiopia
Doc. Hasto Wardoyo
0 Komentar

Hasto mengingatkan, stunting sangat berpengaruh pada masa depan Indonesia. Ini terjadi karena untuk mencapai mencapai kemajuan memutuhkan sumber daya manusia (SDM) unggul. Faktanya, saat ini proporsi pemuda cukup besar. Tanpa kualitas memadai, mereka hanya akan menjadi beban. Padahal, dependency ratio saat ini sangat rendah. Proporsi ini manjadi peluang raihan bonus demografi lebih maju diterima.

“Ini buah dari perjalan panjang pembangunan penduduk di Indonesia. Penurunan fertilitas dan mortalitas hingga sampai pada satu titik penduduk produktif lebih besar. Penduduk Indonesia mulai didominasi penduduk milenial dan post milenial (Gen Z dan post Gen Z) sebanyak 173,31 juta jiwa atau 64,69 persen). Penduduk tua (generasi X dan babby boomer serta pre-babby boomer sebanyak 94,69 (35,31 persen). Proporsi penduduk Indonesia yang bekerja dan tidak bekerja jauh lebih besar dari yang tidak bekerja, sehingga akan mencapai windows opportunity untuk bonus demografi,” papar Hasto.

Dia menambahkan, transisi demografi di Indonesia ditandai penurunan fertilitas yang tajam dengan dibarengi penurunan mortalitas. Ini yang kemudian mengubah struktur dan komposisi penduduk Indonesia. Penduduk usia 0-14 tahun dari 44,12 persen pada 1971 menjadi 23,33 persen pada 2020. Dalam periode yang sama, penduduk usia kerja 15-64 tahun meningkat dari 53,39 persen menjadi 70,72 persen. Sementara penduduk usia 65 tahun ke atas naik dari 2,49 persen menjadi 5,95 persen. Momentum ini harus dipertahankan agar Indonesia menikmati periode bonus demografi lebih panjang.

Baca Juga:Wapres Komentari Kebijakan Pemerintah RI untuk Tangani PandemiFenomena Borong Susu Beruang, Panic Buying yang Dipengaruhi Media Sosial

Bagi Hasto, momentum harus dipertahankan dengan cara menyiapkan tenaga berkualitas, berdaya saing. Tanpa upaya itu, bonus demografi ini akan lewat begitu saja tanpa bisa dinikmati sebagai bonus kesejahteraan. Penduduk muda sangat menentukan.

“Oleh karenanya, adolescence sangat penting. Mereka yang akan menadi pasangan baru, melahirkan generasi baru, mereka yang akan menjadi penentu. Jika mereka tidak menikah muda, tidak putus sekolah, mendapat pendidikan yang baik, tidak jadi penganguran, sehingga bisa mencapai bonus demografi. Jika tidak, maka akan menjadi bencara. Bisa menjadi berkah, menjadi modal pembangunan. Tetapi juga bisa menjadi musibah. Di sini bisa sejahtera atau sengsara. Itulah mengapa kita harus mennciptakan generasi yang bebas stunting,” tandas Hasto.

0 Komentar