Tak hanya itu, mantan Kepala Puskesmas Kahala di Kabupaten Kutai, Kalimantan Timur, ini mengggarisbawahi bahwa stunting bukan satu-satu masalah kualitas SDM. Data menunjukkan bahwa mental disorder meningkat dari tahun ke tahun. Pada Riskesdas sebelumnya, mental disorder pada anak-anak kita 61, sekarang jadi 9,8 persen. Belum lagi masalah autisme, napza, orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang menjadikan masalah penanganan anak Indonesia kian berat.
“Itulah pentingnya para profesor, para senior, agar kita mendapat masukan dari para ahli untuk masalah-masalah ini. Saya yakin para ahli, profesor, akan sangat lebih mudah menganalisis permasalahan-permasalahan ini. Ketika pemerintah, BKKBN menjadi bagian kecil dari umara, kita bertanya kepada ulama. Nah, ulama stunting ini para profesor. Kita harus belajar kepada para profesor. Kajian-kajian komprehensif bisa kita dapatkan. Semoga dengan usaha paa profesor kita bisa diberikan kemudahan dalam menciptakan generasi unggul,” harap mantan Kepala Instansi Kesehatan Reproduksi dan Bayi Tabung RSUP Sardjito Yogyakarta ini. (NJP)
