Kementerian Parekraf, Manfaatkan Pandemi Sebagai Digitalisasi Pariwisata

Kementerian Parekraf, Manfaatkan Pandemi Sebagai Digitalisasi Pariwisata
Direktur Wisata Alam, Budaya, dan Buatan, Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Alexander Reyaan (Ist)
0 Komentar

JAKARTA – Direktur Wisata Alam, Budaya dan Buatan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Alexander Reyaan mengatakan, pandemi membuat para pengelola objek wisata hingga wisatawan semakin dekat dengan dunia digital sehingga program digitalisasi semakin terakselerasi.

Digitalisasi adalah program yang sudah digaungkan Kementerian Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sejak bertahun-tahun lalu.

Dia menjelaskan, digitalisasi tersebut lebih mengarah kepada proses konsumen saat berwisata, mulai dari melakukan pemesanan untuk transportasi, menginap hingga memesan tiket masuk ke objek wisata.

Baca Juga:Puskesmas Kelurahan Cipageran Menargetkan 250 Lansia untuk Disuntik Vaksin Covid-19Lewat Jalur Open BO, Inilah Kronologi Pembunuhan 2 Mayat Perempuan Terbungkus Plastik

“Sampai hari ini, untuk reservasi dengan menggunakan digital, contohnya airline, atau model transportasi apa pun, dan hotel, restoran itu sudah jadi sesuatu yang biasa. Untuk memasuki objek, pintu masuk objek (wisata), baru beberapa objek menerapkan itu,” ujar dia.

Oleh karena itu, pemerintah ke depannya terus mendorong agar pengelola objek wisata di berbagai destinasi memanfaatkan teknologi digital untuk memudahkan operasional.

Dia mencontohkan, pembelian tiket masuk tempat wisata secara daring membuat pengelola bisa lebih mudah memantau kondisi dan menerapkan protokol kesehatan saat pandemi secara lebih mudah.

Saat pengunjung memesan tiket secara daring, pengelola bisa memantau batas kapasitas pengunjung secara lebih mudah, apalagi saat pandemi ada pembatasan demi menjaga keamanan dan kenyamanan.

“Dengan digitalisasi itu sebenarnya kita bisa secara otomatis melakukan pembatasan yang biasanya disebut carrying capacity,” katanya.

Lewat sistem yang lebih memudahkan, pengelola wisata bisa menerapkan strategi lain bila kapasitas maksimal pengunjung kala pandemi sudah penuh, misalnya dengan mengalihkan wisatawan lain ke jam masuk yang berbeda. Semakin banyak pengguna dan pengelola yang memanfaatkan akses digital, semakin banyak data informasi yang terkumpul untuk pengembangan wisata di masa depan.

Media digital juga menjadi sarana mencari informasi wisata, tak hanya lewat agen wisata atau buku-buku perjalanan.

Baca Juga:Begini Pesan Menyentuh Ashanty Untuk Pernikahan Atta dan AurelSpoiler The Penthouse 2: Fakta di Balik Kematian Bae Ro Na

Itulah alasannya mengapa Kemenparekraf pernah bekerja sama dengan anak-anak muda di berbagai destinasi untuk membantu mempopulerkan berbagai tujuan wisata baru.

Belakangan semakin banyak anak muda yang secara mandiri mengunggah foto-foto atau video menarik dari berbagai tempat wisata yang mengundang ketertarikan orang lain.

0 Komentar