“Misalnya dari Provinsi Jawa Timur, Sulawesi Selatan yang selalu surplus berasnya. Jadi bagi saya ini bukan sesuatu yang baru, sebenarnya saat ini bisa dibilang Jabar net-importir untuk beras. Tinggal bagaimana menyikapinya,” ucapnya.
Tindakan yang kedua, kata dia, selain memproduksi sendiri Pemprov Jabar harus punya kerjasama jangka panjang dengan wilayah lain yang bisa memasok ke Jabar.
“Itu sangat terbuka kemungkinan. Misalnya kita membangun MoU atau kerjasama BUMD kita yang akan dibikin pusat distribusi dengan para produsen beras di Jawa Timur, Sulawesi Selatan yang selalu surplus,” katanya.
Baca Juga:Distahor Jabar Gagas Regrenasi Petani dengan ProgramHarus Waspadai Masa Tenang Pilkada 2020, Mampukah Bawaslu Mencegah?
Cara ketiga, jelas dia, yang membutuhkan perjuangan lebih ialah harus membangun apa yang dilakukan pemerintah pusat, seperti Food Estate.
“Misalnya kita bekerjasama dengan provinsi Kalimantan, tapi disana dikelola oleh BUMD Jabar. Dan tugasnya ialah bagaimana hasil produksinya nanti itu digunakan untuk mensuplai kekurangan beras di Jabar,” paparnya. (erw/yan)
