Stand Up Nangis

”Kok sekarang Anda tidak lucu lagi?” tanya saya kemarin.

”Badan saya yang sudah lebih lucu,” jawabnya.

Ghozi menjadi gemuk sejak menekuni IT. Wajahnya sudah lebih banyak mecucu daripada tertawa.

”Siapa yang lebih lucu? Anda atau Agung?” tanya saya.

”Kan bapak bilang saya sudah tidak lucu lagi. Ya beliaulah yang lebih lucu,” jawabnya.

Ghozi sangat berhutang budi pada Agung Sadega. Agunglah yang memperkenalkan Ghozi ke temannya. Kebetulan teman Agung itu menjabat Wakil Bupati Belitung. Namanya: Isyak Meirobie.

Kalau di Kabupaten Belitung Timur ada BTP, di Kabupaten Belitung ada Isyak. Sama-sama suku Tionghoa –tapi beda jauh tutur bahasanya. Sama-sama tertarik politik –tapi Isyak memulainya sejak semester 5.

Isyak langsung ”ok” ketika Agung memberitahunya tentang aplikasi yang dibuat Ghozi.

Itu masih awal Maret.

Jam itu juga Isyak membentuk grup WA. Anggota grup itu 3 orang: Isyak, Agung, dan Ghozi. Diskusi tentang aplikasi itu dibicarakan intensif di grup itu.

Tiga hari kemudian sudah bisa diputuskan: Belitung langsung memanfaatkannya. Isyak-lah yang menambahkan ide perlunya dikombinasikan dengan gelang konser.

Ghozi setuju.

Hari itu juga, Isyak pesan gelang di Jakarta. Besoknya sudah bisa dikirim ke Belitung.

Isyak pun langsung lapor ke Gubernur Bangka Belitung, Elzardi Roesman. Sang gubernur sangat responsif. Bahkan langsung memanggil Ghozi ke Bangka. Memberinya pula tempat tinggal sementara.

Provinsi Babel menjadi yang pertama menerapkan aplikasi Fightcovid19.id.

Isyak ikut bersyukur nama Ghozi kini menasional. Meski hubungan Isyak-Ghozi begitu intens tapi keduanya belum pernah baku muka. Ghozi belum sempat ke Belitung.

Inilah zaman baru: membuat keputusan penting lewat serba online.

Hanya saja keadaan cepat berubah.

”Fungsi gelang itu sekarang dialihkan. Bukan lagi untuk penumpang pesawat yang tiba di Belitung tapi untuk penduduk yang harus isolasi,” ujar Isyak.

Itu karena tidak ada lagi pesawat yang mendarat di Belitung. Dari 14 kali sehari, menjadi sekali, menjadi tidak ada sama sekali. Yakni sejak secara nasional dilarang tiga hari lalu.

”Aplikasi Ghozi tetap besar manfaatnya,” ujar Isyak yang sejak masih mahasiswa sudah jadi tokoh nasional. Yakni sejak masih berumur 22 tahun. Waktu statusnya masih mahasiswa interior desain di Universitas Tarumanegara, Jakarta.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan