mixer, ternyata semakin ke sini semakin banyak yang harus dibeli. Apalagi pakai uang sendiri,” kisah perempuan 25 tahun itu.
Tak hanya itu, di masa-masa itu, dia mengaku banyak menerima masukan dari pelanggan. “Ada pelanggan yang pertama pesan bilangnya ‘wah enak’. Kemudian pesan lagi, responnnya ‘kok gede banget’. Yang ketiga, ‘kok topingnya banyak banget’. Terus
pas pesan empat kali, ‘kok topingnya dikit banget’. Tapi semua itu terus kami terima. Akhirnya setelah repeat order kesekian kalinya, dia tidak komplain lagi. Saya pikir dia juga merasa dihargai dan dilibatkan dalam pembuatan roti ini.”
Selain itu, karena Manna Healthy Bakery saat ini masih usaha rumahan, produksi sering terganggu dengan listrik yang mati, kurangnya air, dan sebagainya. “Banyak printilan yang tidak pernah saya pikirkan. Karena memang awalnya saya enggak ada basic di sini (bisnis). Sambil menjalani bisnis ini, saya banyak belajar, termasuk menyelesaikan permasalahannya satu per satu.
Baca Juga:Dishub Kewalahan Tertibkan Parkir Liar Artha ParkPKS Jabar Kembali Adakan Perekrutan 600 Ribu Kader Baru
Salah satu masalah yang dihadapi adalah pengiriman roti dan kuenya kepada para pelanggan. Dulu, Jenny sempat memiliki kurir pribadi. Namun, karena pesanannya banyak dan pengirimannya tidak hanya ke satu tempat, akhirnya sejumlah pelanggan
komplain karena roti yang dikirim sangat telat.
“Karena kejadian itu, kami memutuskan menggunakan GrabExpress untuk menjaga kepuasan pelanggan. Sejauh ini, bakery yang dikirim aman. Cepat juga nyampenya,” tuturnya. Fitur favorit Jenny adalah Multidestinasi, dimana dia bisa mengirim hingga 5
alamat berbeda dalam satu pemesanan. “Jadi saya bisa fokus ke bisnis dan tidak repot lagi tentang pengiriman. Apalagi, ada fitur Pelacakan Langsung dan Bukti Pengiriman yang membuat kita tahu kondisi barang saat diambil dan diterima pelanggan,” tambah Jenny.
Jenny pun mengatakan kiat-kiat agar usahanya terus bertahan. “Pertama, kita awalnya kan usaha kecil-kecilan. Apalagi lima bulan pertama, kalau mau produk laku, kita harus siap rugi. Tapi, saat-saat itu justru orang-orang sedang mengenali produk kita. Kedua, kita harus berani bikin menu baru. Balik lagi, bikin menu baru kan butuh biaya. Nah, di sana kesabaran benar-benar diuji,” ujarnya sambil tertawa.
