oleh

“Menyesal Kenapa Rusak Lingkungan Saya Sendiri”

Siapa tak kenal nama Ajum, pemburu burung dari Desa Citengah. Selama beberapa tahun dia mendapat order dari berbagai Bandar Burung di Jakarta, Cirebon dan Bandung. Lantas kenapa dia memilih bertaubat?

IGUN GUNAWAN, Sumedang

SOSOK sederhana itu tengah duduk di bangku Saung Sapatapaan yang berbahan bambu, atapnya injuk. Mengenakan pakaian berwarna merah namun sudah pudar, dengan topi koboy berwarna hitam. Sepintas dia tak terlihat seorang ‘raja tega’ terhadap burung, padahal kalau ada burung yang menclok diburuannya pasati dia buru sampai dapat.

Itu cerita dulu, saat belum dia mengenal Komunitas Sapatapaan dan, Eloner Indonesia, Pro Fauna Indonesia di bawah bimbingan dari Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Ajum mengakui jika dirinya memang si raja tega, ada burung di hadapannya apalagi secara nilai ekonomis menggiurkan langsung diburu.

”Dulu saya memang si raja tega lah, burung apa pun yang menclok di buruan saya ya pasti saya ambil. Karena saya sudah dibina, satu sama Pak (mantan) Camat (Wasman), karena dia komunitas juga. Saya merasa malu sendiri,” kata Ajum pada Jabar Ekspres.

Meski diakui Ajum, secara ekonomis dari berburu burung memang menggiurkan, dia menyebutkan pernah dida­tangi para Bandar dari Bandung, Cirebon dan Ja­karta karena memang nama­nya sudah taka sing di para pecinta burung. Harga jual burung hasil buruannya pun bervariasi mulai dari Rp 100 ribu hingga Rp 5,5 juta.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Baca Juga