oleh

Tetap Sekolah meski Kerja di Pabrik dan Pesantren

Masih ada ratusan ribu siswa sekolah dasar yang tersebar di 27 kabupaten/kota tidak tertampung di sekolah menengah pertama (SMP). Sebab, jumlah SMP di Jabar mengerucut ke atas. Lebih sedikit. Begitu pun SMA, lebih selektif lagi karena jumlahnya lebih sedikit.

”Sekolah Jabar Juara adalah pengembangan Sekolah Menengah Terbuka. Polanya sederhana, salah satunya berbasis teknologi. Teknisnya, mereka yang bekerja bisa sekolah di pabrik, di pesantren. Di mana saja, tanpa harus mengganggu aktivitas mereka” tuturnya.

”Berkenaan dengan kalender pendidikan pun, mereka peserta Sekolah Jabar Juara bisa ujian di mana saja dengan berbasis IT. Atau ikut ujian di sekolah induk,” sambungnya.

Dengan tingginya persoalan angka kelulusan yang tidak tertampung, maka kata dia, pihak kecamatan perlu aktif mendata siapa saja yang harus ikut Sekolah Jabar Juara.

Menurut dia, jika Sekolah Jabar Juara dilakukan dibarengi dengan kesepakatan kepala daerah di kabupaten/kota, dia yakin, Jabar akan semakin maju. Sebab, konsep ini akan memotong akses yang sebelumnya belum tuntas. ”Nah, ketika masalah infrastruktur tuntas, mari kita bicara mutu,” tegasnya.

Tim Perumus Sekolah Jabar Juara Dr Nike Kamarubiani MPd menambahkan, Sekolah Jabar Juara adalah inovasi untuk meningkatkan Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan Jawa Barat. Inovasi tersebut tentu perlu dukungan dari SKPD karena akan bersinggungan dengan lintas masyakat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Baca Juga