Kekeliruan pengejaan bisa membuat tunanetra dan penyandang low vision salah kaprah memahami buku yang mereka dengarkan. Kesulitan lain juga kerap dijumpai ketika membaca buku cerita yang diselingi banyak gambar.
Mau tidak mau, reader harus mendeskripsikan gambar itu sebagai satu kesatuan buku yang mereka baca. Begitu pula bila ada potongan lagu di bagian buku, reader harus menyanyikannya.
”Tentu nyanyinya nggak boleh fals, biar didengar enak,” tutur Yanti.
Setiap relawan juga harus memosisikan diri sebagai guru ngaji bersuara merdu ketika membaca bagian cerita yang berkaitan dengan ayat-ayat Alquran. ”Kalau membaca dialog yang ada orang Batak, ya logatnya harus seperti orang Batak. Kalau orang Jawa, ya logat harus njawani,” ujar Hendro Sukoco, 35, relawan termuda di komunitas itu.
Baca Juga:Artotel Group Buka Hotel Baru Di BandungHadirkan Aneka Masakan Tatar Jawa
Setelah melalui sejumlah ”tantangan” tersebut, reader masih harus melewati beberapa tahapan lagi. Di antaranya, membaca buku seraya memperhatikan grafik tekanan suara di layar monitor software Sigtuna Dar.
Grafik itu penting untuk memastikan kualitas suara sesuai standar BPBI. ”Kalau sudah selesai baca satu buku, masih melewati tahap editing,” terang Hessi, sapaan akrab Rosanti.
Relawan Abiyoso tidak jarang menghabiskan waktu berjam-jam di studio. Rata-rata mereka bisa menuntaskan 60 halaman setiap kali datang ke studio yang berada di lantai 2 perpustakaan BPBI Abiyoso tersebut.
”Datang ke sini (studio) bisa seminggu sekali, bergantung kesibukan masing-masing,” imbuh Yanti yang merupakan spesialis membaca buku-buku tebal itu.
Buku yang dibaca pun bervariasi. Mulai buku pelajaran, novel, motivasi, sejarah, hingga karya sastra yang sedang hit di kalangan pembaca umumnya. Relawan pembaca itu memang tidak dituntut macam-macam dari pihak BPBI. Sebab, lembaga di bawah Kementerian Sosial (Kemensos) tersebut tidak memberikan upah kepada relawan.
Namun, para relawan tetap ditarget menuntaskan 45 buku dalam setahun. ”Satu reader bisa 5–10 buku per tahun, bergantung tebal atau nggak,” ungkap Widya menambahkan.
Buku bicara yang mereka hasilkan itu disebarkan secara gratis ke seluruh Indonesia. Mulai panti, yayasan, sekolah luar biasa, hingga taman baca masyarakat (TBM). Satu buku diproduksi 230 keping CD.
