Sukses Umbul Ponggok, Mulai Rancang Umbul Gedang

wisata underwater
BUMDes Tirta Mandiri
SERASA DI LAUT: Dua pengunjung Umbul Ponggok, Klaten, bermain dengan ikan dan berfoto menggunakan alat selam khusus.
0 Komentar

Bantuannya berupa kuliah kerja nyata (KKN) mahasiswa. Ada sekitar 40 mahasiswa. Mereka diminta menggali potensi Ponggok. Apa yang memungkinkan untuk menjadi andalan desa tersebut.

Mahasiswa-mahasiswa itu memberikan masukan bahwa potensi desa tersebut adalah mata air atau umbulnya. Namun, pengelolaannya tidak maksimal. ”Pengelolaan seadanya, padahal bisa menjadi tempat wisata. Dari situlah kami mulai sadar. Kami ingin jadikan umbul tempat wisata,” jelasnya.

Kepala desa akhirnya membuat program studi banding ke Benoa, Bali. Di sana ada snorkeling, diving, dan sebagainya. ”Kami lalu mulai memiliki ide wisata underwater dengan serangkaian fasilitas fotografinya dan snorkeling,” ujar Sentot.

Baca Juga:Warga Masih Buang Sampah di SungaiWujudkan Pembangunan Desa

Dibukalah Umbul Ponggok dengan tiga karyawan. Modal tentunya berasal dari uang kas desa. Pendapatan masih nol, hampir tiap bulan merugi. Tiga karyawan terpaksa hanya diberi gaji Rp 350 ribu per bulan. Padahal, saat itu upah minimum kabupaten Rp 600 ribu. ”Orang yang datang masih lokalan,” ucapnya.

Dalam beberapa bulan, pengelolaan Umbul Ponggok goyang. Untuk membayar listrik dan gaji karyawan, pendapatan tiket dan sebagainya belum bisa menutupi. ”Tapi, kami tidak menyerah,” kenang Sentot.

Saat itu BUMDes Tirta Mandiri berupaya membeli alat snorkeling. Namun, harganya masih terlalu mahal dari kemampuan, Rp 21 juta. ”Satu set itu seharga itu. Kami ya terpaksa menunda dulu,” katanya.

Suatu saat ada komunitas Sentra Selam Jogja yang mulai menggunakan umbul untuk belajar menyelam. Khusus untuk persiapan menyelam sebelum ke laut. ”Mereka mulai foto-foto di bawah air dan mulai membuat umbul ini dikenal,” ujar Sentot.

Umbul Ponggok kian terkenal saat seorang pemilik akun Instagram bernama Aku Kuda Laut mulai mem-posting foto-foto di tempat itu. Kian banyak orang yang berkunjung. Pendapatan pun meningkat. ”Peningkatan pengunjung terjadi pada 2014 hingga sekarang,” ucapnya.

Kendala terbesar saat itu bagi pengelola adalah menyadarkan masyarakat sekitar untuk tidak mandi di umbul. Kala itu warga menjadikan umbul sebagai tempat mandi dengan menggunakan sabun dan sampo. Solusinya, warga dibangunkan toilet umum di sekitar umbul. ”Kami akhirnya membuat larangan mandi di umbul, tapi solusinya ada. Tak sekadar melarang,” kata Sentot.

0 Komentar