Di luar itu, saya memposisikan sebagai sahabat yang terbaik untuk mereka. Begitu banyak pengikut atau teman saya di media sosial, karena saya aktif bermedsos untuk mengenal murid saya di dunia maya. Melalui medsos ini, saya bisa membaca karakteristik peserta didik lewat kiriman yang mereka posting. Bahasa medsos bisa mencerminkan bahasa keseharian seseorang. Saya aktif memberikan komentar, sebagai sahabat terbaiknya, apabila ada postingan dengan bahasa yang kasar atau kurang sopan. Dan tak lupa saya pun memberikan apresiasi dengan komentar positif atau minimal memberikan jempol buat postingan mereka yang baik. Tidak sedikit pula mereka chat yang isinya curhat mengeluarkan seluruh unek-unek atau sekedar mengekspresikan kemanjaannya.
Namun, sikap yang saya terapkan ini, tidak luput mengundang pro dan kontra dari sesama rekan guru. Mereka yang masih memegang prinsip bahwa jangan terlalu dekat dengan murid demi menjaga citra dan wibawa sebagai guru. Dalam persepsinya menjaga jarak dengan anak sama dengan menjaga wibawa, terlalu dekat dengan anak sama dengan hilang wibawa. Sementara saya justru memakai formulasi lain bahwa dekat dengan anak agar lebih mengasyikan. Bisa mengenal mereka lebih dalam, bisa membimbing mereka lebih jauh dan bisa mengasihi mereka lebih ikhlas. Adapun soal wibawa sebagai guru justru akan saya dapatkan ketika kasih sayang saya sebagai guru, ayah dan sahabat itu sudah meresap ke dalam jiwa mereka. Meskipun mereka sudah menamatkan pendidikannya di sekolah, yang saya rasakan peran ayah dan sahabat saya bagi mereka menjadi menjadi lebih terasa . Meskipun tidak terlibat lagi dalam KBM, mereka tetap membutuhkan saya dalam kapasitas sebagai bapak atau sahabat terbaik hanya sekedar curhat. Ketika setiap saat mereka chat saya di medsos, janjian untuk bertemu sekedar melepas rasa rindu dan lain-lain. Pendekatan yang saya terapkan dengan masuk ke dunia murid sebagai guru, ayah dan sahabat terbaik bagi mereka ternyata berbuah manis dengan didapatkannya wibawa dan dihormati dengan penuh ketulusan dan dicintai sepenuh hati oleh murid. Walloohu ‘alam. ***
