Belajar dan Berdonasi di Sekolah Anak Kali Citarum

Belajar dan Berdonasi di Sekolah Anak Kali Citarum
ANTON HADIYANTO/JAWA POS
BERMAIN DAN BELAJAR: Belasan anak kali Citarum saat mengikuti belajar gratis di Sekolah Anak Kali Citarum.
0 Komentar

”Jadikan semua tempat sebagai sekolah dan jadikan semua orang sebagai guru.” Begitulah kata-kata mutiara dari Ki Hajar Dewantara. Dan ini pula lah yang melandasi anak-anak untuk tetap bisa belajar meski berada di bantaran Sungai Citarum, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung.

Yully S. Yulianti, Kabupaten Bandung

PULUHAN anak terlihat antusias dengan bermain dan belajar di sekolah alam dan taman baca Anak Kali Citarum (AKC) di Cibutak foundation. Suara memang bersautan dengan suara daun bambu yang beririsan. Begitu juga gemericik suara air karena memang berdekatan dengan Situ Cisanti yang tak lain merupakan hulu sungai Citarum.

Di sini semua anak boleh belajar apa saja. Meski yang diajarkan lebih pada dasar-dasar keilmuan. Layaknya kegiatan belajar mengajar di sekolah umum. Bedanya, AKC tidak dipungut bayaran dan kegiatan belajar mengajar dilakukan di pinggir sungai Citarum.

Baca Juga:Indonesia Terus Dorong Kemerdekaan PalestinaPerhelatan Jade Catat Rekor Dunia

Kendati memang seadanya, sekolah yang berdiri sejak April 2017 itu memang cukup ramai didatangi anak-anak di Cibutak Foundation. Mereka merupakan anak dari warga sekitar yang berbaur dengan sejumlah anak dari pengunjung kafe Cibutak yang berdiri tak jauh dari lokasi sekolah itu.

Founder Sekolah Alam dan taman baca AKC Budi Mulyono yang akrab dengan sapaan Budi Cilok mengaku, membangun sekolah alam dan taman baca itu karena tergerak dari hati.

Dia berharap, masyarakat di daerah setempat gemar membaca dan belajar. Target  utamanya, anak-anak dan warga yang kurang mampu. ”Tapi kami juga terbuka bagi siapa saja. Yang mau belajar di sekolah alam, boleh ikut dan berbagi berbagai ilmu,” ucap Budi kepada Jabar Ekspres, belum lama ini.

Budi mengaku, sadar jika sekolah inisiatifnya itu belum sempurna. Oleh sebab itu, dia bersama beberapa relawan pengajar juga sedang menyusun kurikulum yang bisa diterapkan untuk anak-anak. Dengan begitu, anak-anak tidak hanya belajar Sabtu-Minggu, tapi bisa mendapatkan ilmu setiap hari layaknya pelajar di sekolah umum. ”Dan terpenting memang menunggu legalitas,” ucapnya.

Karena murid yang ikut umumnya berasal dari keluarga tidak mampu, kata dia, maka semua peralatan sekolah baik buku, pensil, buku gambar dan keperluan belajar lainnya sudah disediakan di sini. ”Artinya, mereka tinggal kemauan belajarnya saja,” ucapnya lagi.

0 Komentar