Seni degung, lanjutnya, ditampilkan di dalam berbagai kegiatan mulai dari perhelatan yang dilaksanakan pemerintah hingga hajatan yang dilaksanakan masyarakat seperti upacara adat budaya, pernikahan, khitanan, seni degung selalu ditampilkan.
Di masa itu, tokoh seni yang sangat populer adalah Entjar Carmedi dan Juju Sain. Saat itu, seni degung ditampilkan dalan bentuk instrumental dengan lagu-lagu yang khas. Di antaranya lagu Pajajaran, Galatik dan Bima Mobos.
Deddy mengatakan perjalanan panjang seni degung mengalami penurunan dan hampir tidak ditemukan lagi hasil kreativitas para seniman. Berjalan seiring waktu dan zaman seni degung kian meredup. Bahkan hingga saat ini hampir tidak ditemukan lagi seni degung yang manggung di berbagai even.
Baca Juga:Operator Pesimistis Menjangkau Seluruh MobilLakukan Sinergitas Pariwisata
Melihat kondisi tersebut, Deddy menjelaskan, pemerintah Provinsi Jawa Barat, dalam hal ini Balai Pengelolaan Taman Budaya Disparbud Jabar, mencoba untuk melakukan berbagai upaya agar seni degung tetap lestari. Bahkan mampu berkembang seiring zaman. ”Dengan begitu, kami berharap kesenian ini dikenal masyarakat dan mampu menarik minat generasi muda untuk mencintai seni degung,” harapnya.
Deddy menambahkan, di sisi lain perkembangan di era industri kreatif atau ekonomi kreatif yang merupakan gelombang keempat pembangunan ekonomi setelah pertanian, industri dan teknologi informasi. Selain itu, UNESCO telah lama berjuang agar industri kreatif berbasis seni dan budaya menjadi motor penggerak dari pembangunan berkelanjutan. (*/rie)
