Tiga musim. Tiga gelar. Tiga kali berdiri di podium tertinggi. Persib Bandung tidak hanya memenangkan pertandingan. Mereka membangun sebuah sistem yang membuat kemenangan bisa terus diulang.
Sadam Jabar Ekspres
Hattrick gelar Liga 1 Indonesia pada musim 2023/2024, 2024/2025, hingga 2025/2026 bukan sekadar soal taktik pelatih, kualitas pemain, atau keberuntungan dalam pertandingan besar. Ada sesuatu yang bekerja jauh dari sorot kamera. Sesuatu yang dibangun bertahun-tahun.
Di tengah banyak klub Indonesia yang masih berkutat dengan persoalan finansial, ketidakpastian pengelolaan, hingga minimnya pembangunan infrastruktur sepak bola modern, Persib justru bergerak ke arah berbeda.
Mereka membangun fondasi. Dan fondasi itu kini berubah menjadi dominasi.
Baca Juga:16 Pelajar Lolos Program SADESSA Jalur Prestasi, Pemkab Tasikmalaya Tunggu Hasil SNBTTasyakuran Persib Juara, Ratusan Warga di Tasikmalaya Bersihkan Lapangan Terbengkalai
Banyak yang melihat Persib hari ini sebagai klub mapan. Tetapi sedikit yang mengingat bagaimana jalan menuju titik itu dimulai.
Tahun 2009, saat banyak klub masih mengandalkan sokongan pemerintah daerah, Persib mengambil keputusan besar, melepaskan ketergantungan terhadap APBD dan memasuki era profesional.
PT Persib Bandung Bermartabat (PT PBB) dibentuk pada 20 Agustus 2009. Tidak lama berselang, tepat 9 September 2009, Persib resmi memasuki era baru sebagai klub profesional mandiri.
Transformasi itu lahir setelah perubahan regulasi membuat klub profesional tak lagi bisa terus menggantungkan hidup kepada anggaran pemerintah.
Keputusan tersebut tidak langsung menghasilkan trofi. Persib harus membangun model bisnis. Mencari sponsor. Mengembangkan sumber pemasukan. Membangun aset.
Proses panjang itu memakan waktu bertahun-tahun. Tetapi hari ini hasilnya terlihat.
Saat sebagian klub goyah ketika sokongan dana terganggu, Persib memiliki fondasi ekonomi yang lebih kokoh. Karena klub modern tidak dibangun hanya dari hasil pertandingan. Mereka dibangun melalui keberlanjutan.
Persib memahami itu lebih cepat.
Baca Juga:Satu Jemaah Haji Asal Cikalong Tasikmalaya Wafat di Tanah Suci240 Siswa SMA Al Ma’soem dan 91 Santri PSAM Resmi Dilepas, Sejumlah Lulusan Tembus Kampus Luar Negeri
Ada perubahan besar yang terjadi di Bandung dalam satu dekade terakhir. Bobotoh tidak lagi sekadar hadir sebagai penonton. Mereka menjadi bagian dari industri.
Di sepak bola modern, loyalitas pendukung tidak lagi cukup diukur dari nyanyian di tribun atau jumlah massa yang memenuhi stadion. Nilainya kini berubah menjadi kekuatan ekonomi. Dan Persib berhasil mengubah itu.
Pemandangan store resmi Persib yang dipadati Bobotoh saat peluncuran jersey baru atau merchandise edisi khusus kini menjadi hal biasa. Antrean panjang tak hanya muncul saat pertandingan besar. Tetapi juga ketika produk resmi diluncurkan.
