“Bahan-bahan itu diolah oleh siswa. Misalnya bikin surabi. Anak-anak ikut numbuk beras. Program ini rutin setiap hari Rabu,” jelasnya.
Hasil dari pembuatan makanan ditawarkan kepada orang tua siswa untuk dibeli. Siswa sendiri yang belajar menjualnya. Uang dari penjualan dimasukkan ke kas untuk bulan berikutnya. Meski dana untuk program kelas memasak ini sudah ada dari yayasan dan BOP.
Sentra berikutnya yakni sehat lingkungan hidup. Yakni mengajarkan anak agar di rumahnya memiliki tanaman. Tanaman ini menghasilkan oksigen. Di sekolah, diterapkan melalui apotek hidup dan warung hidup.
Baca Juga:Gali Potensi Pariwisata di CimahiKlaim Pengerjaan Irigasi Capai 90 %
Apotek hidup ini melibatkan orang tua. Sekolah menawarkan orang tua membawa tanaman untuk ditanam di pekarangan sekolah. Ada sirih, sada, dan lainnya. Siswa tinggal memeliharanya. Menyiramnya setiap hari. “Jika ada anak yang mimisan tinggal petik sirih. Jika ada yang sariawan, tinggal petik sada,” tuturnya.
Selanjutnya program sehat tanpa jentik nyamuk. Siswa diajarkan efek jika membiarkan sampah botol atau kaleng hingga tergenang air. Genangan itu dapat menimbulkan jentik nyamuk berbahaya dan bisa mendatangkan penyakit kepada manusia.
Ada juga program makanan bergizi. Karena keuangan terbatas, pihaknya bekerja sama dengan pendamping PAUD HISBE mencari kerja sama dengan pihak lain agar makanan penuh gizi tetap dapat disajikan di sekolah. “Siswa makan jam 11.00 WIB. Makanannya kami sediakan dan pastikan bergizi,” pungkasnya. (and)
