Ada total tujuh pancuran di kompleks Aek Sipitu Dai. Terbagi menjadi empat di area perempuan dan tiga sisanya di area laki-laki. Kedua bagian terpisah tembok.
Yang dicicipi Jawa Pos tadi air dari pancuran kedua di bagian perempuan. Khasiatnya, konon, enteng jodoh. ”Gadis yang belum dapat jodoh ambil air atau mandi di pancuran ini (menunjukkan pancuran yang kedua),” ujar Pasogit.
Sedangkan pancuran pertama di area perempuan berkhasiat untuk anak bayi yang belum punya gigi. Yang ketiga buat perempuan hamil. Dan, keempat, untuk bidan.
Baca Juga:Golkar Jabar: Penetapan Setnov Tak Ganggu Persiapan PilgubAbubakar Minta Kepala Dinas Capai Target Kerja
Antara pancuran pertama dan kedua, terdapat jarak yang cukup jauh. Ada sebuah batu besar yang memisahkannya. Menurut Pasogit, itu tempat pakaian kalau mau mandi. Namun, hanya perempuan yang tidak ingin hamil lagi yang diperbolehkan meletakkan pakaian di sana.
”Yang hamil nggak boleh. Kalau nggak, bayinya nggak keluar. Gitu juga kalau yang gadis, nggak bisa hamil kalau pakaiannya diletakkan di sana,” terangnya.
Sebelum keluar dari pancuran areal perempuan, Pasogit menunjukkan batu lainnya. Batu itu untuk mengolah jeruk purut dan kelapa jamuran menjadi sampo dan sabun. ”Di sini ditumbuk-tumbuk sampai halus jeruk purut sama kelapa jamuran tadi.”
Orang Batak di sana dulu memang tidak mengenal sampo dan sabun. Karena itu, jeruk purut dan kelapa jamuran itulah yang digunakan saat mandi.
Samosir, tempat Aek Sipitu Dai berada, adalah pulau di tengah Danau Toba. Dari Tomok, menuju sumber air tersebut, tak ada kendaraan khusus. Biasanya disarankan menyewa mobil atau motor.
Pasogit lantas mengajak Jawa Pos ke area pancuran laki-laki. Ada tiga pancuran air di sana. Mulai dari pintu masuk, pancuran pertama untuk nagari atau raja bius (penentu adat di sana).
Hingga saat ini, Pasogit mengaku raja bius masih aktif di desanya. Jadi, jika ada calon pejabat dari kota untuk meminta ”kesuksesan”, mereka bisa mengambil air bersama raja bius.
Baca Juga:Awasi Tarif Parkir di KBBPedagang Curhat, Ditanggapi Wali Kota Terpilih
”Kayak Bupati Dairi sekarang, dia ambil air ke sini dulu. Begitu juga dengan gubernur kami yang masuk penjara, Pak Gatot (Pujo Nugroho),” katanya.
