Terapkan Program PPDB Baru

Namun, jurusan yang sudah mainstream atau umum seperti teknik mesin, teknik bangunan, dan akuntansi, tampaknya, harus kembali dipertimbangkan jika tanpa batasan kuota. Sebab, pendidikan siswa di lokasi terdekat dengan sekolah harus terfasilitasi dengan baik.

Terkait dengan seleksi masuk SMK, kata Saiful, saringan pertamanya melalui nilai ujian nasional (unas). Jika sudah masuk daftar yang bakal diterima sekolah, siswa tersebut harus mengikuti tes potensi akademik (TPA). TPA dilaksanakan setelah penyaringan nilai unas. ”Nilai unas saja, siswa belum mutlak diterima. Ikut TPA dulu. Kalau TPA rendah, ya tidak bisa masuk,” katanya.

Komposisi atau bobot nilai TPA, lanjut Saiful, bergantung jurusan masing-masing. Sebab, setiap bidang keahlian membutuhkan kriteria siswa yang berbeda-beda. Saiful mencontohkan, jika siswa memilih pilihan pertama jurusan teknik mesin dan pilihan kedua teknik bangunan, harus melihat hasil TPA-nya.

Siswa juga harus mengikuti tes kesehatan dan tes fisik. Tujuannya, memastikan bahwa siswa tersebut memang layak diterima di bidang keahlian yang dipilih. Jangan sampai siswa buta warna sehingga tidak bisa membedakan warna kabel listrik. Kondisi tersebut tentu berbahaya.

Mantan kepala Badan Diklat Jawa Timur itu menjelaskan, kebijakan itu dibuat bukan tanpa alasan. Saat ini SMK sangat berkorelasi dengan perusahaan. Bahkan sudah ada Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9 Tahun 2016 tentang Revitalisasi SMK. Jawa Timur pun sudah menindaklanjutinya melalui peraturan gubernur (pergub).

Bahkan, sinergi SMK dengan dunia industri terus dikonkretkan. Saat ini sinergi itu sudah masuk tahap penyusunan modul kurikulum antara SMK dan industri. Di Jawa Timur, link and match dengan industri diluncurkan pada Februari lalu. Setidaknya sudah ada 50 industri dan 234 SMK yang bersinergi. ”Jadi, tidak main-main, mengikat dengan program pemagangan,” katanya.

Dunia industri, tutur Saiful, membutuhkan tenaga kerja yang tidak hanya terampil, tapi juga sehat dan memiliki semangat kerja yang baik. Para siswa yang memilih SMK pun kini tidak boleh minder. Ke depan Saiful berharap SMK negeri juga bisa ikut membina sekolah-sekolah swasta yang lain. (dn/bbs/puj/elo/c15/git/rie)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan