Kisah Ahli-Ahli Harta Karun Berburu Kapal Karam di Laut Indonesia

Kisah Ahli-Ahli Harta Karun Berburu Kapal Karam di Laut Indonesia
MULYADI ISMAIL DAGASULI/RAKYAT MALUKU/JPG
PENGABDIAN SEJARAH: Para peneliti berfoto bersama sejumlah penemuan di galeri Barang Muatan Tenggelam yang baru dibuka Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), beberapa waktu lalu.
0 Komentar

Karena itu, pihaknya terus berusaha mengidentifikasi titik harta karun laut yang harus dijaga agar tidak lari ke luar negeri. Selain 463 situs kapal yang ditetapkan pemerintah era sebelumnya, galeri BMKT terus mengeksplorasi titik-titik harta karun baru. Misalnya, titik tenggelamnya kapal di Karang Panjang, Pulau Natuna, Kepulauan Riau.

’’Dari titik identifikasi, perairan Natuna belum terjamah. Untuk itu, kami akan meneliti wilayah tersebut,’’ jelasnya.

Kepala Sub-Bidang Kewilayahan KKP Eko Triarso menjelaskan, sebagai ahli geologi dan geofisika, timnya akhirnya bisa menemukan titik-titik anomali di Natuna. Yakni, titik eksplorasi yang mempunyai potensi benda karam. Dari situ, tim kemudian mulai melakukan survei lapangan dengan alat seperti batimetri dan sidescan sonar.

Baca Juga:Kemendikbud Turunkan Tim InvestigasiVaksin Meningitis CHJ Ditarik Bayar

Awalnya, tim menemukan empat titik potensial. Namun, akhirnya tinggal Situs Kapal Teh yang terpilih. Itu sesuai dengan cerita yang beredar di masyarakat lokal. Maka, mulailah penyelaman di titik terpilih. Dari dalam laut, penyelam akan berusaha membawa sampel-sampel untuk mendukung penemuan kapal harta karun itu. Sampel-sampel tersebut kemudian diteliti tim Ira untuk menentukan langkah berikutnya.

Tahap ini paling sulit. Sebab, umumnya kapal yang karam beratus tahun sudah tertutup terumbu karang dan tumbuhan laut. Apalagi, ditambah arus laut yang kencang, penyelam biasanya hanya mampu dua kali menyelam dan memeriksa situs dengan durasi setengah jam.

’’Kalau situsnya sudah ketemu, biasanya kami ambil gambarnya. Lalu, Bu Ira yang di atas (kapal) akan menentukan apa yang bisa diambil untuk sampel penelitian,’’ ungkapnya.

Yang biasa dijadikan contoh adalah bangkai kayu kapal dan muatan kapal seperti keramik atau koin kuno. Tapi, yang dipilih biasanya yang tidak memengaruhi ekosistem di sekitar situs. Jika tersambung denga terumbu karang hidup, artefak itu biasanya tidak bisa dijadikan sampel.

’’Di atas, sampel-sampel kami bersihkan, kemudian kami cocokkan dengan referensi untuk mengetahui dari mana dan era kapan harta karun itu berasal,’’ tutur Eko. ’’Semua proses itu memerlukan waktu penelitian sampai dua tahun,’’ tambahnya.

Sejauh ini tim pernah menemukan situs kapal uap zaman Revolusi Industri Inggris yang mirip kapal uap SS Great Britain. Dari temuan itu, tim bisa menyimpulkan bahwa perairan Natuna merupakan pulau transit bagi kapal-kapal asing pada abad ke-17 dan ke-18 Masehi.

0 Komentar