Jokowi Yakini Hubungan Kerjasama dengan AS Tetap Kondusif

”Saya perkirakan kenaikannya cukup tinggi sekitar 50-75 basis poin,” katanya, kemarin.

Normalisasi suku bunga The Fed tersebut, kata Josua, akan mendorong kenaikan yield dari Surat Utang Negara (SUN). Kenaikan yield tersebut pada akhirnya akan membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter Bank Indonesia.

Capital flight dari pasar Emerging Market juga akan mendorong penguatan mata uang dolar AS terhadap sebagian besar mata uang dunia,”ujarnya.

Namun, Josua masih optimistis, sekalipun ada potensi capital flight dari Emerging Market, investasi asing khususnya Penanaman Modal Asing (PMA) dari AS masih akan tetap masuk ke Indonesia. Hal tersebut terkait dengan reformasi struktural serta perbaikan kemudahan berinvestasi mesti terus diupayakan oleh pemerintah. Meski begitu dia menekankan bahwa daya beli masyarakat harus tetap dijaga.

”Sehingga tidak menekan konsumsi masyarakat yang masih menjadi kontributor utama pada perekonomian Indonesia. Dengan demikian secara keseluruhan, prospek ekonomi Indonesia masih cukup baik di mana growth diperkirakan tumbuh di kisaran 5,1-5,2 persen tahun ini. Sebab, ekonomi Indonesia masih mengandalkan potensi domestik untuk meredam risiko dari kebijakan ekonomi Trump,” urainya.

Terkait kebijakan fiscal yang ekspansif tersebut, Ekonom INDEF Eko Listiyanto menuturkan hal tersebut akan menciptakan pelebaran defisit di negara paman Sam tersebut. Karena itu, AS dipastikan akan membutuhkan pendanaan dalam jumlah besar. Pilihan yang paling utama adalah merilis bond ke pasar keuangan. Hal tersebut akan berdampak langsung pada Indonesia.

Sebab, SUN pemerintah memiliki pesaing yang sangat berat, yakni AS. Meski yield yang ditawarkan surat utang AS hanya sekitar 2,61 persen, sementara Indonesia menawarkan yield hingga 7 persen, pemerintah masih harus berupaya keras untuk menarik pasar. Caranya, dengan menaikkan yield.

”Ini akan timbulkan dinamika di pasar keuangan global. Kalau AS berutang, investor pasti beli. Jadi dampaknya langsung bagi kita di pasar keuangan ini, karena sama-sama punya rencana pembangunan infrastruktur. Pilihannya pemerintah kita harus menaikkan yield, itu akan berat jadinya saat jatuh tempo nanti,” paparnya, kemarin.

Untuk investasi, Eko juga membenarkan jika sector ini masih akan lesu, khususnya PMA. Namun, dia menekankan pemerintah bisa memanfaatkan momen ini untuk memperkuat Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Diantara dengan memberikan insentif bagi pelaku usaha yang bisnisnya 70 persen atau lebih berorientasi ekspor.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan