Saya juga akan bisa melihat orang-orang yang duduk di kursi di atas air beku itu untuk memancing. Mereka membuat lubang di permukaan air beku itu untuk menjulurkan tali pancingnya ke dalam air.
Saat menjalani test scan tadi, saya lihat ada yang baru lagi di rumah sakit ini. Di lobi depan area scan/MRI, banyak mesin seperti ATM. Itulah mesin untuk mencetak hasil scan/MRI. Yang mencetak adalah pasiennya sendiri. Atau keluarganya.
Ini menarik. Orang periksa apa saja bisa langsung mencetak sendiri hasilnya. Termasuk mencetak film hasil MRI. Caranya mudah. Pasien mendapatkan barcode saat menjalani scan dan barcode itulah yang dimasukkan dalam area sensor di ”mesin ATM” itu.
Baca Juga:Kongres PSSI Dijaga 1.825 Aparat KeamananDosen Berkelit Tak Hadir
Kini pasien juga tidak berdesakan lagi. Antrean scan atau USG sudah lewat layar monitor. Pasien tinggal melihat di layar TV kapan gilirannya tiba.
Yang terbaru lagi ternyata ini: APPS. Rumah sakit ini punya APPS sendiri. Dengan APPS pasien bisa mengakses jasa apa saja lewat handphone mereka.
Pasien yang menginap seperti saya juga punya kode akses sendiri. Untuk membuka lift, pintu lobi, pintu blok, dan pintu kamar. Saya lihat keteraturannya juga lebih baik. Dan ini dia: pakaian seragam petugas liftnya seperti pramugari pesawat dari Timur Tengah.
Saya tidak akan lama di Tianjin. Kali ini saya hanya akan menjalani pemeriksaan kesehatan yang penting-penting saja. Agar minggu depan sudah bisa menjalani persidangan pengadilan di Surabaya sesuai yang dijadwalkan.
Kebetulan cuaca Tianjin juga kurang enak. Sangat dingin dan berkabut. Begitu berkabutnya sampai saya naik kereta cepat selama lima jam dari Shanghai. Takut pesawat tidak bisa mendarat di Tianjin.
Kebetulan pesawat Garuda dari Jakarta ke Shanghai memang telat. Tidak tanggung-tanggung: empat jam.
Tentu saya bertanya baik-baik ke awak Garuda. Mengapa telat begitu parah? Ternyata Garuda tidak dapat izin melintas di atas Singapura pada jam yang diminta. Ini karena waktu yang dialokasikan Singapura untuk Garuda sudah lewat. Garuda tidak menggunakannya tepat waktu. Akhirnya digeser empat jam kemudian.
