Pro dan Kontra Fenomena Pemain Asing

pemain-asing
PERSAINGAN MAKIN KETAT: Sejumlah pemain asing yang bermain di tanah air ternyata tidak membantu pemain lokal berkembang. Para pemain lokal harus pintar memilih posisi.
0 Komentar

”Karena kesempatan bermain itu sama dengan kepercayaan. Jadi, jangan sampai kepercayaan dan kesempatan yang terbuka lebar ini malah di salah gunakan,” imbuhnya.

Fulbeck Timnas Indonesia Muhammad Abduh Lestaluhu menambahkan, banyak klub memang sengaja tidak merekrut pemain di posisi tersebut. ”Jadi, mau tidak mau pemain pemain Indonesia yang harus dimanfaatkan di posisi ini. Itu yang membuat pemain indonesia di posisi itu melimpah,” ujar Abduh.

Di sisi lain, Benny Wahyudi menyarankan agar pemain pemain Indonesia bisa memanfaatkan fenomena ini. Terutama bagi mereka yang bisa bermain di sejumlah posisi yang sama. Benny lantas mencontohkan rekan setimnnya, Sunarto di Arema Cronus. Di mana, Sunarto yang sejatinya berposisi sebagai striker rela berganti peran menjadi winger.

Baca Juga:Pemprov Jabar Dukung ISCFebri Ngaku Makin PeDe

”Dan dia (Sunarto, Red) bisa berkembang di posisi barunya itu. Coba saja kalau dia masih ngotot bermain sebagai striker. Tentunya, harus bersaing dengan pemain asing yang sudah menumpuk di sana,” jelas Benny.

”Kuncinya, pemain pemain Indonesia juga harus cerdas membaca peluang agar mendapat banyak jam terbang,” tambahnya.

Sementara itu, meski stok penjaga gawang tanah air melimpah ruah, tidak lantas membuat para pelatih timnas ikut leluasa bisa memanggil penjaga gawang ke timnas. Kiper Timnas Gatot Prasetyo mengatakan, mereka memang tidak bebas untuk memilih kiper dari sekian banyak penjaga gawang yang ada saat ini.

Sebab, menurut Gatot, ada batu ganjalan terbesar yang sampai saat ini menghalangi mereka. Yaitu, pembantasan setiap klub hanya bisa melepaskan dua pemain ke Timnas. Dia lantas mencontohkan kiper Sriwijaya FC Teja Paku Alam yang sejatinya layak bergabung dengan Timnas. Tapi, Teja gagal dipanggil ke Timnas lantaran sudah ada dua wakil dari Sriwijaya, Fachruddin Wahyudi dan Ichsan Kurniawan.

Akhir para kipper seperti bermain catur. Memanggil pemain, tapi juga harus melepas pemain yang lain. ”Kalau saja tidak ada regulasi semacam itu (pembatasan dua pemain dari setiap klub, Red),maka kami pun akan diberikan kebebasan untuk mencari pemain yang siap untuk membela timnas,” jelasnya. (ben/nit)

Laman:

1 2
0 Komentar