Marieta Renwarin, guru para bocah itu di SDN Ngadi, mengaku bahwa pihak sekolah sangat memahami perjuangan mereka untuk bisa sampai sekolah. Karena itu, keterlambatan mereka juga ditoleransi.
Bahkan, saat cuaca benar-benar buruk, sekolah bisa mengerti kalau para murid memilih tak berangkat. ”Dalam satu bulan, rata-rata mereka masuk 20 hari,” terang guru kelas IV itu.
Saat musim angin barat, tingkat kehadiran mereka di sekolah akan lebih rendah karena ombak lebih ganas. Dalam kondisi tersebut, kadang para guru memutuskan untuk mengisi presensi mereka sehingga tetap dianggap masuk sekolah.
Baca Juga:Dwi Handayani Syah Putri Jatuh Cinta dengan TurkiSerdadu Tridatu Menuju Bandung
Pihak sekolah bukannya tidak berupaya memastikan anak-anak tersebut selalu hadir di sekolah. Salah satunya, mengupayakan bantuan speedboat kepada dinas sosial setempat. ”Saya sampaikan juga waktu ada kunjungan DPRD Maluku,” tuturnya. ”Tapi, sejauh ini baru sebatas ditampung,” tambahnya.
Perjuangan sama beratnya harus dilakoni para guru yang mengajar di SMPN 2 Dullah Laut yang berlokasi di Pulau Duroa atau Dullah Laut. Richarda Wemay, kepala pertama SMP tersebut, menuturkan bahwa setiap pagi dirinya harus berangkat dengan menggunakan ojek dari kediamannya yang berjarak sekitar 12 kilometer dari dermaga di Desa Ngadi. Kadang, sang suami, Yusuf Wemay, yang mengantarkan.
Ketika perahu tiba pun, dia tidak bisa langsung berangkat. Menunggu penuh lebih dahulu, yang berarti 6 sampai 10 orang. Sebagian adalah guru-guru SMPN 2 Dullah Laut.
Agar tidak mengorbankan jam belajar siswa, dia mengatur jadwal mengajar sedemikian rupa. Sebagian guru yang memang tinggal di Dullah Laut diminta untuk mengapelkan para siswa. ”Sehingga jam belajar tetap dimulai pukul 7.30,” ucap ibu empat anak itu.
Ketika Jawa Pos mengunjungi sekolah yang didirikan pada 2012 itu pada Sabtu tiga pekan lalu (12/3), dari luar, gedung sudah tampak baik. Kelas-kelas berlangsung normal sebagaimana umumnya SMP. Meskipun, sebagian siswa tetap diperbolehkan tidak mengenakan seragam karena kondisi tertentu.
Tahun ini total siswa yang bersekolah di SMPN 2 Dullah Laut 67 orang di kelas VII, VIII, dan IX. Angkatan pertama yang berjumlah 26 siswa sudah lulus pada 2015.
Satu hal yang tidak ada di sekolah itu adalah listrik. Dulu mereka punya panel surya, tapi hilang dicuri. ”Sekarang kami pakai genset yang dinyalakan hanya pada saat jam sekolah,” kata Wakasek SMPN 2 Dullah Laut Fatma Nuhuyana.
