Ketika Pelajar Harus Bertaruh Nyawa untuk ke Sekolah

SMPN 2 Dullah Laut
BAYU PUTRA/JAWA POS
TETAP CERIA: Richarda Wemay (tengah) bersama para guru dansejumlah siswa di depan sekolah mereka, SMPN 2 Dullah Laut, Sabtu (12/3) siang.
0 Komentar

Pulau Ubur adalah satu di antara lebih dari 15 pulau yang secara administratif masuk Tual. Kota tersebut dahulu ibu kota Kabupaten Maluku Tenggara. Tapi, sejak 2007 berdiri sendiri.

Tual berada di Pulau Dullah. Jumlah sekolah di sana sudah cukup banyak. Berdasar data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, di Tual berdiri 85 sekolah negeri dan swasta. Terdiri atas 49 SD, 19 SMP, 11 SMA, dan 6 SMK.

Sekolah-sekolah itu melayani 8.353 siswa SD, 3.956 siswa SMP, 3.082 siswa SMA, dan 1.017 siswa SMK. Totalnya 16.408 siswa. Mereka dididik sekitar 900 guru, baik PNS (pegawai negeri sipil) maupun non-PNS.

Baca Juga:Dwi Handayani Syah Putri Jatuh Cinta dengan TurkiSerdadu Tridatu Menuju Bandung

Saat ini ada 15 anak Pulau Ubur yang bersekolah di Tual. Kadang mereka berangkat bersama. Satu perahu bisa diisi sepuluh anak. ”Tapi, kalau gelombang sedang tinggi, satu perahu diisi tujuh anak,” lanjut Luthfi yang berprofesi nelayan itu.

Luthfi mengaku sangat sering khawatir dengan keselamatan dua putrinya. Namun, dia tak kuasa melarang mereka berangkat karena semangat Julia dan Julfina mengais ilmu tinggi sekali. ”Biar nggak ketinggalan pelajaran,” tambah Julfina yang mendampingi sang ayah ketika bertemu Jawa Pos di Tual pada Jumat tiga pekan lalu (11/3).

Tak jarang, Julia, Julfina, dan kawan-kawan sepulau harus berangkat sendiri tanpa kawalan orang tua atau kerabat mereka yang sudah dewasa. Adalah Irhan Tamnge yang mengambil bagian. Siswa kelas IV SDN Ngadi itu memimpin kawan-kawannya menyeberangi pulau.

Sebagai ”kapten kapal” yang total dinaiki sepuluh orang, Irhan menjadi pengendali mesin perahu. Salah seorang kawannya, Muslim Rumahsukun, dia tugasi menguras air yang masuk ke perahu. Sedangkan delapan kawan lain diminta menjaga keseimbangan perahu.

Nah, suatu hari di bulan yang sama dengan tenggelamnya perahu motor yang dinaiki Julia dan Julfina, Irhan mengaku kapalnya juga pernah dihajar gelombang tinggi. Sepatu Muslim yang belum dipakai terempas ke lautan dan hanyut. Untung, mereka tetap bisa tiba di sekolah dengan selamat. ”Pernah pula perahunya terbalik,” ujar Irhan.

Tidak jarang pula, minyak habis di tengah laut sehingga mesin perahu mati. Alhasil, mereka harus bergantian mendayung untuk tiba di seberang.

0 Komentar