[tie_list type=”minus”]Penderita DBD Makin Meningkat[/tie_list]
bandungekspres.co.id– Penderita demam berdarah dengue (DBD) di Kota Bogor semakin hari semakin meningkat. Akibatnya RSUD Kota Bogor kini dibanjir orang sakit. Tercatat hingga kemarin, terdata 169 pasien yang di rawat. Jumlah pasien ini sejatinya sudah overload, namun pihak RSUD berinisiatif mengisi 15 ruang VIP dengan meminjam ekstra bed milik TNI.
“Rekapitulasi pasien dari tanggal 1 hingga 29 Januari sebanyak 169 pasien. Kota Bogor 76 orang, dan 93 warga Kabupaten Bogor. Setiap hari terus meningkat,” ujar Direktur RSUD Kota Bogor Dewi Basmala kepada Radar, kemarin.
RSUD kata dia, mempunyai keterbatasan kasur, dan kamar pun sudah penuh. Dewi pun harus memutar otak agar pasien yang datang bisa dilayani. Hingga pihaknya mensiasati untuk meminjam ranjang yang biasa digunakan para tentara.
Baca Juga:TPPAS Harus Berikan Manfaat Jangka PanjangPenanganan Banjir Harus Terprogram
“Kita cuma punya 207 bed. Itupun nyampur box bayi, anak-anak dan dewasa. Jadi saya telepon TNI Yonif 315/garuda untuk pinjam Velbed. Alhamdulillah 40 tempat tidur lipat langsung diantarkan. Karena untuk hari ini saja 57 orang yang masuk RSUD,” ungkapnya.
Dia berprinsip, sebagai rumah sakit milik pemerintah, pihaknya tidak ingin sampai ada kasus penolakan pasien. Hingga 15 ruangan VIP di rumah sakit dia putuskan untuk digunakan pasein yang menggunakan ektrabed dari tentara tersebut. “Dari 18 ruang VIP, kita gunakan untuk ruang bed tambahan. Dalam satu ruangan, ada enam hingga delapan pasien. Dirata-ratakan sehari sekitar 10 sampai 15 pasien yang masuk,” katanya.
Banyaknya pasien, membuat para dokter dan perawat yang menangani para pasien DBD harus kerja ekstra. Mereka harus kerja lembur. Untuk mengantisipasi kekurangan darah, dia pun sudah meminta karyawannya ikut melakukan donor darah
“Memang kita kerja ekstra tenaga dan sering lembur. Kalau memang pasien sulit mencari darah, karyawan RSUD saya akan minta untuk donor darah sesuai dengan golongan darahnya. Jangan sampai pasien tak tertolong,” tegasnya.
Untuk dua pasien yang sebelumnya meninggal akibat DBD, dia mengaku buruknya kondisi korban saat tiba di RSUD, sehingga pihaknya tak dapat menyelamatkan nyawa pasien tersebut. “Itu karena keterlambatan merujuk. Kita mulai rawat pukul 21.00, dan pukul 23.00 meninggal,” jelasnya.
