Menjaga Aksara Sunda dari Kepunahan, Kisah Jalan Panjang Mang Ujang Laip

Yudistira Purana Sakyakirti atau Akrab Disapa Mang Ujang Laip saat Menunjukkan Aksara Sunda Karyanya
Yudistira Purana Sakyakirti atau Akrab Disapa Mang Ujang Laip saat Menunjukkan Aksara Sunda Karyanya (Dok:Jabar Ekspres)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Di tengah derasnya arus modernisasi dan dominasi aksara Latin dalam kehidupan sehari-hari, Yudistira Purana Sakyakirti memilih berjalan melawan arah zaman.

Pria yang akrab disapa Mang Ujang Laip itu telah lebih dari empat dekade menempatkan dirinya sebagai penjaga gerbang aksara Sunda, sebuah sistem tulisan yang perlahan tergeser dari ruang publik dan ingatan kolektif masyarakatnya sendiri.

Bagi Mang Ujang, aksara Sunda bukan sekadar alat tulis atau peninggalan sejarah yang pantas dipajang di museum.

Baca Juga:Persib Hampir Full Team, Maung Bandung Siap Menggila di El Clasico IndonesiaBukan Sekadar Tiga Poin, Marc Klok Tegaskan Duel Persib vs Persija Soal Harga Diri Kota

Ia memandangnya sebagai cermin jiwa masyarakat Sunda, yang merekam hubungan manusia dengan alam, tata nilai sosial, serta filosofi hidup yang diwariskan lintas generasi.

Setiap goresan huruf, menurutnya, menyimpan cerita tentang cara orang Sunda memandang dunia.

Pilihan hidup itu tidak datang sejak awal. Pada awal 1980-an, arah masa depan Mang Ujang justru condong ke dunia kedokteran.

Namun sebuah pertemuan yang tak terduga dengan seorang ahli sastra Sunda mengubah sepenuhnya peta jalan hidupnya.

Percakapan sederhana kala itu justru membuka kesadaran baru tentang kekayaan yang nyaris luput dari perhatian generasinya.

Saat itu, seperti menemukan mata rantai yang hilang dalam sejarah, ia menyadari bahwa aksara Sunda menyimpan lebih dari sekadar sistem tulisan.

Di balik bentuknya yang tampak sederhana, tersimpan identitas dan ingatan kolektif yang perlahan tergerus oleh waktu.

Baca Juga:Di Bawah Kepemimpinan Prabowo, Mentan Amran Antar Indonesia Capai Swasembada Pangan 2025Meski Pincang, Macan Kemayoran Pede Tantang Persib di GBLA

“Saat itu saya menyadari bahwa aksara Sunda bukan hanya sekadar tulisan, melainkan wadah jiwa dan identitas masyarakat Sunda yang mulai terlupakan,” kata Mang Ujang Laip saat ditemui di Cimahi, Minggu (18/1/26).

Kesadaran tersebut membawanya menempuh jalan panjang yang tidak mudah.

Mang Ujang mulai menyelami setiap aspek aksara Sunda, dari bentuk huruf yang elegan hingga aturan penulisan yang sarat makna.

Ia menelusuri filosofi yang tersembunyi di balik tiap karakter, sekaligus menggali konteks sejarah yang menghidupkan aksara tersebut dalam perjalanan peradaban Sunda.

“Belajar dari para leluhur dan ahli budaya, saya membangun pemahaman yang tidak hanya mendalam, tetapi juga penuh rasa cinta,” imbuhnya.

Namun bagi Mang Ujang, penguasaan pengetahuan semata tidaklah cukup. Ia mengaku tidak puas bila aksara Sunda hanya hidup di ruang akademik atau menjadi konsumsi kalangan terbatas.

0 Komentar