Bermain di tarkam memang rentan terkena cedera. Namun menurut Jasuk dengan menjadi pemain gacong itu setidaknya bisa mengobati kerinduan manggung dalam sebuah laga yang kompetitif.
Di samping itu, Jasuk tak menyangkal dengan menjadi pemain gacong setidaknya bisa menambah penghasilan. Mengingat kompetisi domestik masih mandet.
”Intinya sebagai pemain pasti rindu kompetisi, dan lumayan bisa nambah juga buat dapur,” tukasnya.
Baca Juga:F1 Hanya Milik Mercedes dan FerrariBantah Rumor, MotoGP di Indonesia Tetap Jalan Terus
Di bagian lain, legenda Persib Bandung era 60-an, Emen Suwarman tak tega melihat kondisi mantan timnya. Ya, tanpa kejelasan kompetisi, skuat besutan Djadjang Nurdjaman ini hanya berlatih tiga kali dalam seminggu.
Pria karib disapa Guru ini, berharap para penggawa Maung Bandung bisa tetap disiplin mengolah tubuh. Sekalipun agenda dengan tim terbatas, idealnya para pemain melakukan latihan secara pribadi.
”Pemain maju bukan oleh pelatih tapi pribadinya. Pelatih hanya untuk kerjasama tim, dan ingat, sepakbola sangat membutuhkan fisik dan tenaga selain teknik dan skill, jadi jangan hanya terpaku pada latihan satu minggu tiga kali,” tutur Emen.
Menurut dia, beberapa pemain Persib yang memilih hijrah ke klub Malaysia bukan karena loyalitasnya pudar. Dia mewajarkan, mengingat sepak bola di Indonesia masih belum berlangsung secara wajar.
”Situasi sepakbola kita yang sulit, jadi wajar ke Malaysia. Bukan hanya persoalan uang, tapi pemain bola tetap perlu kompetisi,” ulasnya. (ryt/rie)
