Sumber penghasilan Riyan lainnya adalah menjadi pendongeng panggilan. Biasanya di forum-forum hiburan sekolah atau di kegiatan ulang tahun.
Selain razia, kesulitan besar Riyan lainnya adalah mengatur para ”murid”, bocah-bocah jalanan itu. Sebab, kecenderungan mereka memang tidak mudah diatur. Maklum, sehari-hari mereka memang biasa hidup bebas tanpa ada yang mengatur.
Setelah beberapa tahun bergulat menghadapi berbagai kesulitan itu, akhirnya kegiatan Riyan dilirik salah satu lembaga kemanusiaan nasional (PKPU). Dia lantas dibekali mobil operasional untuk keliling sekolah-sekolah dan taman-taman kota.
Baca Juga:100 Ton Beras untuk Korban BencanaWaspadai Flu Burung
Riyan benar-benar sangat terbantu. Dengan mobil tersebut, jumlah buku yang bisa dibawanya semakin banyak. Komunitas anak jalanan yang bisa dijangkaunya juga kian luas.
Dia juga semakin sering mengadakan beragam kampanye membaca buku yang menarik dan menyesuaikan zaman. Misalnya, gerakan ”Tukar Batu Bacan dengan Buku Bacaan” dan ”Tukar Petasan dengan Buku Bacaan”.
Kendati semuanya itu tak mendatangkan sepeser pun uang, bagi dia, kepuasan karena bisa berbagi ilmu melebihi segalanya. ”Bercengkerama dengan anak-anak jalanan juga bisa memperkaya batin saya. Saya ingin perubahan di diri mereka,” urainya.
Jaringan pertemanannya juga meluas. Dari interaksinya lewat ikhtiar literasi itu pula, dia berhasil ”menemukan” Farizal. Bocah pengamen tersebut lantas dikenal luas sebagai salah seorang peserta kontes Indonesian Idol Junior.
”Saya berjumpa dengan Farizal di daerah Kebayoran Baru. Suaranya benar-benar bagus. Dia sangat berbakat,” kenang Riyan.
Berkat dedikasinya itu pula, TBM yang didirikannya terpilih sebagai salah satu yang terbaik di tanah air. Dia bersama ratusan tutor dari berbagai TBM se-Indonesia pun diundang ke perayaan HAI Ke-50 di Karawang.
Dalam perhelatan yang berlangsung 22–24 Oktober lalu itu, booth TBM Sanggar Alam Kita juga termasuk yang banyak menarik perhatian pengunjung. Kemampuan Riyan mendongeng bermodal boneka tangan menjadi salah satu penyebabnya.
Baca Juga:Penanganan Hukum Anak Harus AdilCanangkan Cimahi Baranang
Riyan tentu bangga dengan capaiannya selama sepuluh tahun menebarkan virus literasi di jalanan Jakarta. Namun, dia tetap berharap pemerintah punya upaya lebih untuk memberdayakan anak-anak jalanan.
”Tidak sekadar ditangkapi dan dimasukkan ke rumah singgah,’’ jelas dia. Melainkan, disalurkan sesuai dengan bakatnya. Pengalamannya mengajarkan, kalau hanya ditampung, mereka tidak akan betah. ”Sebab, orientasi mereka adalah mencari uang untuk bertahan hidup,” ujarnya. (*/c10/ttg)
