Pancing Minat Baca Anak Jalanan dengan Sulap

rangsang minat baca
ILHAM WASI/FAJAR/JPG
DEMI ANAK BANGSA: Ridwan Alimuddin di depan Perahu Pustaka, di Polewali Mandar, Sulbar, Rabu (2/12). Ridwan mengajar anak-anak dalam membaca.
0 Komentar

Sesuai dengan namanya, di dalam kelompok itu ada tukang ngasong, tukang ngamen, dan tukang-tukang lainnya. ”Sejak awal saya gemar membaca. Jadi, tidak kesulitan saat membaca skrip teater,’’ tuturnya.

Tetap bergumul dengan anak-anak jalanan di kelompok tersebut akhirnya membersitkan ide untuk menjadi pendamping bagi mereka. Dia memilih cara untuk menyediakan akses belajar membaca dan menulis.

Kendati berlatar belakang sama, toh Riyan tetap tak gampang merealisasikan niat mulia itu. Dibutuhkan kesabaran dan kerja keras dalam waktu tak sebentar untuk bisa masuk ke komunitas anak jalanan yang dituju.

Baca Juga:100 Ton Beras untuk Korban BencanaWaspadai Flu Burung

”Jam terbang” sebagai orang jalanan akhirnya membawa Riyan menuju jurus jitu untuk ”menaklukkan” anak-anak jalanan agar mau belajar. ’’Biasanya saya sapa dulu begini, bagaimana hari ini…ramai gak nih. Anak jalanan itu memang banyak yang nggak bisa baca, tapi semua jago menghitung uang hehehe,’’ tuturnya.

Setelah berbasa-basi sedikit, Riyan baru melakukan pendekatan lebih lanjut. Cara itu diterapkannya ke semua kelompok, baik yang biasa berkerumum di halte, tempat penyeberangan, maupun kolong jalan layang.

Ketika sudah berhasil membaur pun, Riyan tidak langsung menyodorkan buku bacaan. Sekalipun, banyak buku yang dibawanya yang sejatinya menarik secara visual karena gambarnya lebih mendominasi ketimbang tulisan.

Sebaliknya, Riyan menggunakan permainan sulap sebagai penarik minat anak-anak itu. Atau, membacakan dongeng dengan perantara boneka tangan. Disesuaikan dengan rata-rata usia komunitas anak jalanan yang ditemuinya.

”Sulap yang saya bawakan aslinya ya cuma itu-itu saja. Tetapi, mereka tetap tertarik,” jelas anak ketujuh di antara sembilan bersaudara tersebut, lantas terkekeh.

Kadang lokasi pertemuan Riyan dengan anak-anak jalanan itu ada di sekitar taman kota. Kalau sudah seperti itu, Riyan pun langsung menggiring anak-anak didiknya untuk duduk nyaman sembari belajar di tengah-tengah taman.

Tak jarang, saking asyiknya mengajarkan membaca dan menulis, dia baru pulang ke rumah di kawasan Cipinang Muara, Jakarta Timur, jauh malam. Namun, tak jarang pula dia harus berhadapan dengan razia satuan polisi (satpol) pamong praja (PP).

Baca Juga:Penanganan Hukum Anak Harus AdilCanangkan Cimahi Baranang

Dia dikira pedagang asongan. Sembari berkeliling membawa buku, Riyan memang masih bekerja sebagai pengasong. Di sepedanya tetap ada makanan dan minuman untuk dijual.

0 Komentar