Perjalanan Menantang dengan Tour Guide Anggota TNI

Pulau Ndana
SEKARING RATRI/JAWA POS
TERPENCIL: Posal di Pulau Ndana sebagai pertahanan di pulau terluar bagian selatan. Banyak pemandangan yang indah dan memesona di sepanjang perjalanan.
0 Komentar

Begitu memasuki Pulau Ndana, kita disambut papan nama dari kayu bertulisan Selamat Datang di Pulau Ndana dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggris. Tidak jauh dari papan nama tersebut, tampak barak TNI-AD.

Barak tersebut terdiri atas tiga bangunan utama. Di bagian belakang, terdapat lapangan yang kerap digunakan para anggota TNI untuk berolahraga. Ada pula sebuah sumur yang disesuaikan dengan warna doreng TNI.

Sebagai informasi, tanah untuk pembangunan barak TNI diberikan secara gratis oleh keluarga Mesakh yang memegang hak ulayat atas Pulau Ndana. Hal tersebut sesuai dengan surat permohonan komandan Korem 161/Wirasakti Kupang pada 3 September 2007. Mereka juga menyerahkan tanah seluas 400 meter persegi pada 2001 untuk pembangunan mercusuar.

Baca Juga:Cegah Faham Terorisme Masuk KampusMenanti Taring Kalinic di Eropa

Selain itu, hingga September 2013, pemerintah telah merampungkan pembangunan kantor Posal (Pos AL), menara, dan dua unit rumah dinas lengkap dengan alsatri serta genset. Keluarga Mesakh juga menyerahkan tanah seluas 400 meter persegi pada 2001 untuk pembangunan mercusuar.

’’Dalam perjanjian antara TNI dan keluarga Mesakh, anggota TNI harus menjaga hutan agar tetap utuh dan tidak boleh menembak rusa. Di sini banyak rusa yang berkeliaran, meski hewan itu sangat jarang terlihat,’’ kata Kusman.

Menurut pria 38 tahun itu, sebelum TNI berada di pulau tersebut, patroli angkatan laut Australia kerap mengunjungi pulau itu. Hal tersebut dinilai cukup berisiko bagi keutuhan wilayah Indonesia.

’’Sebelum ada markas TNI di sini, kapal-kapal patroli Australia kadang singgah di sini. Untuk menjaga keamanan pulau, sejak 2006, ditempatkan TNI Angkatan Darat dan satuan Marinir. Awalnya, pulau ini adalah wilayah kerajaan. Keturunannya sekarang ya keluarga Mesakh itu,’’ jelasnya.

Selain bercerita soal sejarah, para anggota TNI siap mengantar para turis berkeliling pulau. Jika jumlah turis hanya beberapa orang, biasanya mereka akan diajak melihat-lihat keindahan Pulau Ndana dengan kendaraan motor beroda tiga. Kendaraan tersebut bisa memuat 4-5 orang. Di kota besar, kendaraan itu kerap digunakan untuk mengangkut barang seperti galon air mineral. ’’Kami menyebutnya Viar (merek motor Viar, Red),’’ ujar Kusman.

Berkeliling pulau dengan menaiki Viar cukup seru. Pengemudinya pun harus piawai. Sebab, medan yang ditempuh bukan jalanan beraspal, melainkan padang rumput dan semak belukar. Guncangan-guncangan kecil pun mengiringi perjalanan. Kadang Viar selip saat melewati medan berpasir. Karena itu, penumpang sebaiknya berpegangan erat.

0 Komentar