BI Jaga di Bawah 14.000

JAKARTA – Rupiah masih bergerak dalam volatilitas (pergerakan naik turun) tinggi. Bank Indonesia (BI) selaku otoritas moneter pun diminta lebih ketat menjaga rupiah agar tetap di bawah level 14.000 per dolar Amerika Serikat (USD).

Rupiah-Menguat
DANIL SIREGAR/SUMUT POS

TREN POSITIF: Rupiah kembali menguat terhadap dolar Amerika Serikat. Dolar AS menyentuh level terendahnya di angka Rp 13.809.

Pengamat pasar uang Farial Anwar mengatakan, nilai tukar rupiah yang sempat berada di atas 14.000 per USD terbukti lebih banyak menyusahkan para pelaku usaha. ”Karena itu, mumpung sekarang sudah di bawah 14.000, BI harus bisa menjaganya,” ujarnya kemarin (8/10).

Farial mengakui, peran BI sebagai bank sentral memang belum sekuat yang diharapkan. Karena itu, ketika isu kenaikan The Fed memanas beberapa waktu lalu, maka intervensi BI di pasar keuangan pun seolah tak mempan sehingga rupiah sempat terlempar ke 14.700 per USD.

Dia menyebut, penguatan tajam rupiah dalam beberapa hari ini lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal, terutama derasnya aliran modal masuk ke pasar keuangan Indonesia senilai lebih dari USD 100 juta dalam waktu tiga hari saja. Meskipun, BI sendiri sudah menguras devisa hingga USD 7 miliar dalam beberapa bulan terakhir. ”Sekarang faktor eksternal mulai reda, saatnya BI lebih aktif,” katanya.

Menurut Farial, langkah aktif BI tidak harus selalu dengan intervensi ke pasar, melainkan juga melalui kebijakan-kebijakan untuk memperkuat pasokan valas di dalam negeri. ”Setidaknya, kalau BI bisa menjaga rupiah di bawah Rp 14.000 atau malah di bawah 13.500 dalam waktu cukup lama, maka itu akan menaikkan kredibilitas BI di mata pasar,” ucapnya.

Farial mengakui, dalam kondisi saat ini, memprediksi nilai tukar rupiah ibarat melihat ke lorong gelap. Sebab, berbagai analisis fundamental dan teknikal yang dibuat para pakar tak lagi berlaku. Misalnya, kenaikan tajam rupiah hingga 1.000 per USD dari 14.700 menuju 13.700 dalam tiga hari, benar-benar tak terduga. ”Sebab, pasar uang sekarang digerakkan sentimen, itu tak bisa diukur,” ujarnya.

Namun, bukan berarti BI dan pemerintah tak bisa berbuat apa-apa. Dengan memperhitungkan kenaikan suku bunga The Fed baru akan dinaikkan tahun depan, maka ada waktu beberapa bulan bagi BI dan pemerintah untuk menunjukkan kepada pasar bahwa perbaikan fundamental ekonomi benar-benar dijalankan.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan