Aplikasi Tombol Panik Masih Butuh Sosialisasi

Demi menjaga kondusifitas, Pemerintah Kota Bandung melakukan pantauan melalui sebuah ruangan canggih, Bandung Command Center (BCC). Kepala Bidang Telematika Dinas Komunikasi dan Informasi Sri Dhiandini menjelaskan, ruangan itu dibuat sebagai pusat koordinasi juga langkah cepat agar kondisi kota nyaman dan aman. Kondisi malam menjadi fokus utama pemantauan dan keamanan yang dilakukan pemerintah.

Disinggung soal tombol panik (panic button), Dini menuturkan, bila ada panggilan darurat, akan ada sirene berbunyi di seluruh ruangan BCC. ’’Kalau sistem sih kita jaringan, jadi bisa diunggah lewat app store melalui ’X-Igent Panic Button’ kemudian ikuti saja semua yang ada di panic button. Maka bila mau menggunakan tombol panik tinggal tekan layar tiga kali,’’ jelasnya.

Dini menjelaskan, tombol panik merupakan cara paling aktif dalam mengurangi tingkat kejahatan yang terjadi. Dirinya mengklaim, masyarakat sudah siap menggunakan aplikasi tersebut. Berdasarkan data statistik, 2,3 juta orang Bandung sudah memakai gawai. ’’Pak Walikota (Ridwan Kamil) juga tidak akan membuat aplikasi yang tidak down to earth. Enam puluh persen warganya merupakan generasi muda, kalau kata saya ini akan efektif,’’ ucapnya.

Hanya saja, dari data yang diperoleh kepolisian, penggunaan tombol panik belum sepenuhnya efektif. Pasalnya, dari 23 kasus kriminal yang terjadi sepanjang bulan Juli-Juni, belum ada yang melaporkan melalui teknologi tersebut.

’’Sampai saat ini baru ada empat panggilan, yang satu itu kebakaran, yang tiga itu kalau nggak salah anak hilang di Jalan Asia-Afrika,’’ ujar Kepala Polrestabes Bandung Komisaris Besar Angesta Romano Yoyol.

Yoyol memandang, diperlukan sosialisasi agar masyarakat terbiasa untuk menggunakan aplikasi tombol panik. Apalagi, masyarakat memang belum terbiasa. ’’Lebih efektif yang tombol panik, infonya kan ada anggota juga operator kita di sana dan langsung memberitahunya ke lapangan, atau jajaran bahwa ada panggilan tombol panic, patrolinya langsung merapat. Kalau belum paham, belum terbiasa. Pas ditelepon balik, dia bingung mau menjelaskan apa, karena syok,’’ tukas mantan Kapolres Metro Jakarta Pusat itu. (fie/vil)

(fie/vil)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *