Berawal dari Koleksi Barang Vintage

Apa yang terpikir ketika muncul kata Vintage? Mobil, motor klasik, lukisan, atau barang-barang tua? Poster berbahan dasar kayu mungkin bisa menjadi pilihan lain.

 Syanne Ayuresta, Lengkong

Clock Werk
INTAN WIDI S/BANDUNG EKSPRES/JOB

UNJUK GIGI: Ria (kanan) Fadllullah (kiri) sebagai owner owner ClockWerk memamerkan poster wood di rumah produksi Jalan Taman Siswa Nomor 67, Kota Bandung, Senin (6/7).

 LAMA memimpikan memiliki usaha sendiri, membuat Fadllullah mencoba peruntungannya di dunia bisnis. Berawal dari liburannya ke Malang, Jawa Timur dan kegemarannya mengkoleksi poster-poster, membuat pria berusia 21 tahun ini mencari poster terbuat dari kayu karena berkesan vintage dan unik.

’’Dulu pas liburan ke Malang nyari poster karena memang hobi koleksi, tiba-tiba kepikiran buat nyari yang dari kayu. Kebetulan nyari di Bandung nggak ada, bahkan belum ada yang buat. Makanya kepikiran bikin sendiri,’’ ujar pria yang Ramadan ini menyibukkan diri berbisnis kuliner pada Bandung Ekspres belum lama ini.

ClockWerk pernah menjadi salah satu karya lokal yang Maret lalu mulai dipasarkan pada Expo Wirausaha Bandung yang menawarkan kesan itu. Peminat ClockWerk sendiri kebanyakan berasal dari Kalimantan, Tangerang, Bekasi, Sumatra, hingga Sulawesi. Ukuran yang ditawarkan sendiri beragam, mulai dari A5 hingga A1 dengan kisaran harga Rp 85 ribu sampai Rp 250 ribu. Harga tersebut awalnya dianggap terlalu murah oleh teman-teman hingga dosennya. Tetapi Fadllullah menanggapinya dengan santai. Bagi dia, dengan harga kisaran tersebut masih bisa berubah. Sebab, dia dan Ria selaku –Marketing ClockWerk-akan memperbaiki dan semakin selektif memilih kualitas kayu yang menjadi bahan dasar utamanya.

Proses pembuatannya sendiri memakan waktu tiga hari hingga seminggu, tergantung ukuran dan tingkat kesulitan gambar. Jenis kayu yang digunakan sementara ini adalah kayu jati dan pinus. Desember tahun lalu saat awal melakukan percobaan dan pemilihan kayu, dia mendapatkan kayu tersebut secara gratis dari toko-toko.

Modal awal bisnis ClockWerk sendiri berasal dari kantong pribadi Ria. Selanjutnya, mereka mulai bingung karena kehabisan dana untuk melanjutkan usahanya. Akhirnya, Fadllullah terpaksa menggunakan uang kuliahnya. ’’Lucunya, modal usaha kita itu dari uang kuliah saya. Jadi, uang kuliah biasa saya minta ke orang tua dipakai buat beli kayu. Padahal saya di kampus dapet beasiswa, tapi akhirnya ketahuan juga sama ibu. Sempet diomelin sih, tapi makin ke sini saya dapat dukungan penuh dari orang tua. Malahan, sekarang ayah saya bantu bikin,’’ ucapnya sambil tertawa.

Tinggalkan Balasan