oleh

Pemasok 75 Persen Hortikultura Jabar

[tie_list type=”minus”]Pemda Kenalkan Pertanian pada Pameran APKASI AITIS 2015[/tie_list]

NGAMPRAH – Kabupaten Bandung Barat (KBB) memiliki potensi sangat besar dalam memproduksi tanaman perkebunan (hortikultura). Pasalnya, bila dilihat dari geografis, KBB memiliki lahan pertanian maupun perkebunan cukup luas. Tak heran, jika Bandung Barat dapat memasok produksi hortikultura hingga 75 persen kebutuhan di Jawa Barat, dan 40 persen untuk tingkat nasional.

Kepala Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perijinan Terpadu (BPMPPT) Kabupaten Bandung Barat Rahmat Syafe’i menyatakan, potensi produksi hortikultura dapat terus ditingkatkan dari tahun ke tahunnya. ”KBB memiliki potensi tinggi di bidang hortikultura. Siapa yang tidak kenal dengan kemasan bunga krisan, dan itu sudah masuk ke mancanegara. Selain ekspor bunga krisan, ada juga paprika, kubis putih, dan cukini (timun jepang),” kata Rahmat kepada wartawan di Ngamprah kemarin (17/5).

Menurut dia, produksi di sektor pertanian memberikan kontribusi terhadap PDRB yang masuk dalam tiga besar. Sementara, sektor industri pariwisata masuk dua besar setelah industri pengolahan. Potensi hortikultura tersebut, lanjut Rahmat, dikenalkan pada pameran tahunan Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI) International Trade and Investment Summit (AITIS) 2015 yang dibuka Presiden Joko Widodo di Jakarta beberapa waktu lalu.

Pada ajang ini, Pemda KBB menampilkan stand berbentuk Observatorium Bosscha. Dengan memiliki stand expo bergaya Teropong Bintang Boscha. Hal ini dimaksudkan untuk menarik para pengunjung dari provinsi lainnya di Indonesia, termasuk dari pengunjung mancanegara. ”Tema bangunan Bosscha diambil karena merupakan bagian dari logo KBB, dan bangunan ini memang merupakan bangunan teropong bintang tertua se-Asia Tenggara, sehingga pantas menjadi ciri khas KBB,” kata Rahmat.

Diungkapkannya, banyak yang dipamerkan pada ajang ini. Di antaranya potensi pariwisata di Kecamatan Lembang, Cisarua, dan Parongpong. Termasuk wilayah Rongga yang memiliki pariwisata unggulan Curug Malela. ”Salah satu yang kita promosikan yakni Curug Malela yang merupakan replika dari air terjun Niagara yang terdapat di Benua Amerika,” ujarnya.

Rahmat menambahkan, secara geografis, KBB mempunyai posisi yang strategis dibanding daerah lainnya, di samping sebagai penyangga ibukota Provinsi Jawa Barat. Wilayahnya juga dilewati oleh dua sabuk utama jalan tol, yaitu ruas tol Jakarta-Cikampek-Purbaleunyi dan ruas tol Ciawi-Sukabumi-Cianjur-Padalarang. Selain itu, KBB masuk dalam track jalur kereta api Jakarta-Bandung-Surabaya, dan jalur kereta api Sukabumi-Cianjur-Padalarang. Tol gate dan stasiun kereta api yang menjadi pelabuhan darat yang efektif bagi wilayah KBB. Keberadaan PLTA Upper Cisokan, Saguling, dan Cirata yang mensupply listrik kawasan Jawa-Bali merupakan sumber energi yang luar biasa besar, termasuk cadangan energi geothermal Tangkubanparahu.

Kondisi geografis dan keberadaan infrastruktur penunjang jalur distribusi merupakan daya tarik tersendiri bagi industri pengolahan, tekstil, dan manufaktur yang efektif dan efisien yang berorientasi pada keuntungan. Sehingga seolah-olah Bandung Barat menjadi kawasan investasi yang sangat ideal bagi expatriat yang ingin menanamkan modalnya di kawasan ini.

Diungkapkannya, total investasi yang masuk ke KBB pada tahun 2014 mencapai Rp 13,7 triliun. Sementara, untuk Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) Rp 6,86 triliun, dan Penanaman Modal Asing (PMA) Rp 6,87 triliun, dengan rata-rata pertumbuhan Rp 3 trilun per tahun.

”Kita optimis pada tahun ini nilai investasi bakal terus tumbuh dibandingkan tahun lalu. Dengan kekayaan alam ditunjang dengan sumber daya manusia, maka pertumbuhan ekonomi serta pertumbuhan investasi bakal jauh lebih baik,” pungkasnya. (drx/fik)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Baca Juga