Kuliner Bandung Termasuk ‘Gila’

Bahan Tepung Paling Diminati Masyarakat

SUMUR BANDUNG – Geliat kuliner berkembang pesat di tengah-tengah masyarakat. Beberapa tahun belakangan ini termasuk yang terbesar sejak 10 tahun terakhir. Sebab, masyarakat sudah sering melakukan wisata atau jalan-jalan kuliner, hanya untuk menyantap sesuatu yang sedang happening. Atau mencicipi makanan sedang jadi bahan pembicaraan.

Bandung, yang suka disebut sebagai ‘kiblat’ kuliner, termasuk kota dengan animo yang cukup besar terhadap dunia icip-icip. Kuliner juga sudah menjadi trademark Kota Bandung di kalangan wisatawan lokal. Terutama, dari ibukota.

Wakil Ketua Ikatan Chef Indonesia (ICA) Kota Jakarta juga membenarkan hal itu. Menurut dia, saat ini animo masyarakat baik di Kota Bandung ataupun di Jakarta terhadap kuliner sudah dalam kategori ‘gila’. Geliat kuliner di Jakarta tidak seramai di Bandung. Karena menurut dia, biasanya kuliner yang booming berasal dari Bandung. ’’Kalau di Bandung lagi ngetren sesuatu nanti di Jakarta baru muncul kulinernya,’’ ujar Chef Ute kepada Bandung Ekspres di gedung Graha Manggala Siliwangi, Jalan Aceh, kemarin (11/3).

Jika ditelusuri, fenomena menggilanya kuliner di Kota Bandung sejak tahun 2014, mayoritas berbahan dasar tepung. Seperti, surabi, berbagai macam mi dan bakso, serta yang saat ini masih banyak diminati masyarakat. Misalnya, kue cubit, olahan roti seperti panini, pizza, dan lain-lain.

Tepung terigu yang merupakan hasil olahan gandum, memiliki keunggulan khusus. Di antaranya, karbohidrat yang cukup tinggi, protein, dan dari segi kepraktisan sangat mudah untuk dijadikan santapan. Olahan tepung juga bisa diatur untuk menjadi makanan yang manis ataupun gurih. ’’Lihat saja martabak ataupun surabi,’’ tambah Ute.

Namun perlu diketahui, tepung terigu mengandung gluten yang bisa menaikan kadar gula darah. Sehingga, tidak baik dikonsumsi bagi mereka yang sedang mengatur kadar gula darahnya. Selain itu, kandungan karbohidrat dalam tepung juga harus diolah. Salah satu caranya dengan berolahraga. Supaya tidak berubah menjadi gula di dalam tubuh.

Menurut Chef Deddy, penasihat ICA, pemahaman masyarakat terhadap makanan masih rendah. Saat ini, masyarakat hanya mengonsumsi makanan yang ingin mereka makan. ’’Padahal, pemahaman sebenarnya dari mengonsumsi makanan adalah mengonsumsi makanan yang dibutuhkan oleh tubuh,’’ terangnya.

Chef yang sudah berpengalaman selama 30 tahun itu juga menyayangkan kurangnya peran pemerintah dalam menangani dunia kuliner yang ada saat ini. Sebab, menurut dia kuliner juga dapat menarik wisatawan mancanegara. ’’Kuliner Indonesia kekurangan promosi, jauh sama negara-negara tetangga kita seperti Thailand. Padahal, bagi Thailand sendiri kuliner asli dari negaranya merupakan salah satu daya tarik bagi wisatawan,’’ tukasnya. (mg7/tam)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.