JABAR EKSPRES – Di sebuah gang di kawasan RT 09/RW 07, Kelurahan Husein Sastranegara, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, sejumlah warga sibuk mengolah kain putih menjadi lembaran batik penuh warna. Percikan demi percikan lilin dan pewarna menciptakan motif abstrak yang tak pernah benar-benar sama.
Di tempat sederhana itulah Batik Ciprat Lembayung tumbuh. Bukan sekadar menjadi kegiatan produksi kain, usaha yang mulai berjalan sejak Juli 2026 ini juga menjadi ruang bagi warga untuk belajar, berkarya, sekaligus memperkuat ekonomi keluarga.
Ketua UMKM Batik Ciprat Lembayung, Yuliana, mengatakan kelompok tersebut berawal dari program pelatihan yang difasilitasi pendamping Program Keluarga Harapan (PKH). Kesempatan itu kemudian dimanfaatkan sejumlah warga untuk mempelajari teknik membatik hingga akhirnya berani memulai usaha sendiri.
Baca Juga:Pilkades Digital Diklaim Murah, Ini Belanja Sewa PerangkatnyaSMAN 21 Bandung Wakili Jabar di Grand Final AXIS Nation Cup 2026, Berebut Juara Nasional di Istora Senayan
Awalnya, pendamping PKH membagikan informasi mengenai pelatihan kepada kelompok warga. Dari sana, sekitar 10 orang tertarik mendaftar dan mengikuti pelatihan selama lima hari di Wyata Guna, Bandung.
Setelah pelatihan selesai, mereka mendapatkan bahan-bahan untuk mulai memproduksi batik secara mandiri. Modal berupa bahan produksi tersebut diberikan untuk mendukung keberlanjutan usaha dan tidak perlu dikembalikan.
“Dari bahan-bahan itu kami dikasih hari Jumat, hari Senin sudah mulai produksi. Jadi, setelah pelatihan, kami langsung menjalankan usaha ini pada Juli,” ujar Yuliana.
Dari pelatihan singkat tersebut, Batik Ciprat Lembayung perlahan menemukan jalannya. Warga yang sebelumnya belajar bersama kini bergotong royong mengembangkan keterampilan menjadi produk bernilai ekonomi.
Aktivitas produksi Batik Ciprat Lembayung berlangsung dari pagi hingga sore hari. Meski memanfaatkan ruang terbatas di gang permukiman, kelompok ini mulai menerima pesanan dari berbagai pihak.
Salah satu pesanan datang dari Wyata Guna untuk kebutuhan seragam Sekolah Rakyat. Pada hari ditemui, kelompok tersebut tengah mengerjakan 25 lembar kain batik untuk pesanan itu.
Selain pesanan tersebut, terdapat sekitar 10 lembar kain lainnya yang juga diproduksi. Dengan demikian, total pesanan yang sedang dikerjakan mencapai 35 lembar.
Baca Juga:Reuni 40 Tahun Alumni ITB 86, Siap Bersinergi Atasi Persoalan Bandung hingga Berkontribusi untuk IndonesiaUpdate Kasus Penyerangan di Caringin, Sejumlah Terduga Pelaku Berhasil Diciduk
Bagi kelompok usaha yang baru berkembang, pesanan tersebut menjadi dorongan untuk terus menjaga produktivitas sekaligus meningkatkan kemampuan produksi.
