Dari Gang Sempit di Cicendo, Batik Ciprat Lembayung Tumbuh Jadi Harapan Ekonomi Warga Bandung

Pekerja menyelesaikan produksi batik ciprat di Gang Komud Supadio Cicukang 2 RW 07, Kelurahan Husein Sastraneg
Pekerja menyelesaikan produksi batik ciprat di Gang Komud Supadio Cicukang 2 RW 07, Kelurahan Husein Sastranegara, Kota Bandung, Selasa (27/10/2026). Batik Ciprat Lembayung yang di produksi kelompok UMKM tersebut telah dipasarkan ke sejumlah daerah seperti Tasikmalaya hingga Bali di jual dengan harga Rp130.000 hingga Rp250.000. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

Yuliana mengakui, tempat produksi mereka memang belum ideal. Aktivitas membatik dilakukan di gang yang juga menjadi akses keluar-masuk warga dan kendaraan. Namun, dukungan masyarakat membuat kegiatan tersebut tetap berjalan.

“Alhamdulillah, masyarakat juga mendukung adanya Batik Ciprat ini. Kalau ada motor lewat, ya dimaklumi karena kami sedang produksi. Warga malah bangga karena di lingkungan kami ada Batik Ciprat,” tuturnya.

Dukungan lingkungan menjadi salah satu modal penting bagi kelompok tersebut. Di tengah keterbatasan ruang, warga berusaha menjaga agar kegiatan produksi tetap berlangsung tanpa mengganggu aktivitas sehari-hari masyarakat.

Baca Juga:Pilkades Digital Diklaim Murah, Ini Belanja Sewa PerangkatnyaSMAN 21 Bandung Wakili Jabar di Grand Final AXIS Nation Cup 2026, Berebut Juara Nasional di Istora Senayan

Sesuai namanya, Batik Ciprat Lembayung mengandalkan teknik cipratan lilin untuk menghasilkan motif pada kain. Tidak seperti batik dengan pola yang dibuat secara terukur dan berulang, teknik ini memberikan ruang bagi setiap kain untuk memiliki karakter tersendiri.

Prosesnya dimulai dari kain mori primissima berwarna putih. Kain kemudian diperciki lilin sebagai bagian dari pembentukan motif. Setelah lilin mengering, kain diberi pewarna khusus tekstil, lalu dijemur.

Tahap berikutnya adalah penggunaan water glass untuk mengunci warna. Kain kemudian dijemur kembali sebelum dicuci menggunakan soda ash untuk membersihkan sisa lilin dan menyelesaikan proses pewarnaan.

Jika cuaca cerah, proses pembuatan dapat berlangsung relatif cepat. Yuliana menyebut kelompoknya mampu menghasilkan sekitar dua hingga tiga lembar kain dalam satu jam, bergantung pada kondisi matahari dan tahapan pengerjaan.

“Motifnya abstrak. Jadi, satu motif dengan motif lainnya berbeda karena cipratannya juga berbeda. Khasnya ada pada cipratan dan perpaduan warnanya,” jelasnya.

Keunikan tersebut menjadi identitas Batik Ciprat Lembayung. Setiap lembar kain memiliki corak yang tidak sepenuhnya bisa diseragamkan, sehingga menghasilkan karya dengan karakter masing-masing.

Untuk memperluas pasar, Batik Ciprat Lembayung tidak hanya menawarkan kain, tetapi juga produk turunan yang dapat digunakan sehari-hari.

Baca Juga:Reuni 40 Tahun Alumni ITB 86, Siap Bersinergi Atasi Persoalan Bandung hingga Berkontribusi untuk IndonesiaUpdate Kasus Penyerangan di Caringin, Sejumlah Terduga Pelaku Berhasil Diciduk 

Kain batik berukuran panjang dua meter dan lebar 115 sentimeter dijual dengan harga Rp130.000 hingga Rp150.000. Sementara itu, produk baju jadi dibanderol Rp250.000 dan ikat kepala dijual seharga Rp20.000.

Pemasaran dilakukan melalui media sosial, termasuk Instagram, dengan dukungan pendamping PKH dan pihak kelurahan. Upaya tersebut diharapkan dapat memperkenalkan produk kepada konsumen yang lebih luas, tidak hanya di sekitar lingkungan tempat produksi.

0 Komentar