Strategi Pembenahan Rantai Pasok dan Suntikan Modal Perbankan Dongkrak Kinerja Pelaku Usaha Pakaian Anak

Jenama lokal asal Bandung, Cuit Babywear, berhasil bangkit dari tekanan operasional dan mencatatkan kenaikan k
Jenama lokal asal Bandung, Cuit Babywear, berhasil bangkit dari tekanan operasional dan mencatatkan kenaikan kinerja bisnis
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Pengelolaan arus kas yang disiplin serta ketahanan modal kerja menjadi faktor penentu utama keberlanjutan bisnis bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di sektor pakaian bayi dan anak. Jenama lokal asal Bandung, Cuit Babywear, berhasil bangkit dari tekanan operasional dan mencatatkan kenaikan kinerja bisnis yang signifikan setelah melakukan perombakan manajemen rantai pasok yang didukung oleh kucuran pembiayaan perbankan.

Langkah penataan ulang tata kelola perusahaan tersebut diambil guna menjaga ketersediaan bahan baku serta memperkuat struktur permodalan.

Melalui integrasi pembiayaan kredit kegiatan usaha berkelanjutan dan program pendampingan dari PT Bank Central Asia Tbk (BCA), pelaku usaha mampu memperbaiki ketimpangan likuiditas akibat ekspansi jaringan yang sempat terhambat di masa lalu.

Baca Juga:Pengurus Pusat Ambil Sikap Tegas, Penyelenggaraan Musprov XVIII PMI Jabar Resmi DitundaMusprov PMI Jawa Barat Diwarnai Pemecatan Dua Pengurus Daerah Jelang Pemilihan

“Waktu itu saya terlalu percaya diri dan terburu-buru berekspansi. Untuk itu, kami harus belajar lagi dari awal, mulai dari menata supply chain, strategi pemasaran, sampai pada tata kelola perusahaan yang lebih sehat,” kata Direktur sekaligus Owner Cuit Babywear Hans Saputra di Bandung, Kamis (22/10/2026).

Tekanan Likuiditas dan Penataan Ulang Bisnis

Perjalanan bisnis Cuit Babywear bermula pada tahun 2016 dengan memanfaatkan peluang tingginya permintaan pasar pakaian bayi yang relatif stabil.

Pada awal pendiriannya, operasional bisnis berfokus penuh pada saluran penjualan daring (online) hingga mencatatkan pertumbuhan penjualan yang cukup pesat.

Keberhasilan di ranah digital mendorong manajemen untuk mengambil langkah agresif dengan merambah jaringan toko fisik pada tahun 2021.

Namun, akselerasi jaringan penjualan yang terlampau cepat tanpa diimbangi kesiapan manajemen rantai pasok dan tata kelola internal memicu timbulnya kendala likuiditas pada tahun 2022.

Memasuki periode pembenahan di tahun 2022, perusahaan mulai mengakses fasilitas pembiayaan UMKM dari BCA untuk mengamankan kebutuhan perputaran arus kas.

Pasokan modal kerja tersebut dialokasikan untuk memenuhi belanja bahan baku, pembenahan infrastruktur usaha, serta penguatan strategi pemasaran.

Baca Juga:Polda Jabar Bongkar Pabrik Obat Ilegal Berkapasitas Ratusan Juta Butir di Bizpark KopoKejati Jabar Didesak Usut Kebijakan Infak Bupati Pangandaran di Tengah Gelombang OTT KPK

Dengan dukungan kredit usaha dari BCA, kami punya ruang untuk berbenah dengan tenang dan terukur.

‘’Kami memilih kredit UMKM BCA karena bunganya kompetitif, kemudahan akses jaringan kantor cabang yang luas, serta kualitas pelayanan BCA yang sudah diakui. Fasilitas ini sangat vital untuk menjaga perputaran bisnis kami,” ujar Hans.

0 Komentar