JABAR EKSPRES – Di tengah persaingan usaha kuliner dan keterbatasan lahan produksi, Bu Ai (61) tetap mempertahankan kerupuk tradisionalnya. Baginya, usaha yang telah bertahan puluhan tahun itu dijalani dengan sederhana: mengikuti keadaan dan mensyukuri rezeki.
Panas matahari menjadi bagian penting dalam proses pembuatan kerupuk tradisional milik Bu Ai (61) di Gang Kompak, Kiaracondong, Bandung. Di tempat itu, kerupuk jadul yang telah dikenal sejak 1965 masih diproduksi dengan cara sederhana, mengandalkan cuaca untuk mengeringkan adonan sebelum siap diolah lebih lanjut.
Namun, mempertahankan usaha yang telah melewati puluhan tahun bukan perkara mudah. Selain harus berhadapan dengan perubahan zaman dan persaingan, ruang produksi yang semakin terbatas turut memengaruhi jumlah kerupuk yang bisa dihasilkan.
Baca Juga:Kondisi Remaja Hilang Asal Tasikmalaya Berangsur Membaik, Polisi Ungkap Fakta Nama Fiktif di Apartemen PIK 2Ekspor Benih Lobster Disetop Permanen, Pemerintah Genjot Budi Daya di dalam Negeri
Bu Ai mengingat masa ketika lahan penjemuran masih luas. Saat itu, ia bisa memproduksi hingga 6.000 buah kerupuk. Kini, kapasitas produksi tidak lagi sebanyak dahulu setelah sebagian lahan di sekitar tempat usahanya berkurang.
“Sekarang produksinya sedikit karena lahannya sudah berkurang. Dulu bisa sampai 6.000 buah,” ujar Bu Ai saat ditemui di tempat produksinya.
Menurut Bu Ai, sekitar delapan meter lahan di tempat tersebut terdampak pengambilan lahan oleh PJKA. Ia menyebut pembongkaran di area itu berlangsung pada 2021.
Berkurangnya ruang penjemuran membuatnya harus menyesuaikan jumlah produksi. Jika dahulu ia masih bisa menyimpan persediaan, sekarang kerupuk lebih banyak dibuat untuk memenuhi kebutuhan dalam waktu dekat.
Produksi juga sangat bergantung pada cuaca. Kerupuk yang dibuat Bu Ai tidak dikeringkan menggunakan oven, melainkan mengandalkan sinar matahari. Ketika cuaca mendukung, proses penjemuran dapat berjalan seperti biasa. Sebaliknya, saat musim hujan tiba, proses pengeringan perlu disiasati.
“Kalau cuaca mah mengikuti saja. Soalnya kerupuk ini tidak menggunakan oven, tetapi mengandalkan panas matahari,” tuturnya.
Di tengah perkembangan industri makanan yang semakin beragam, kerupuk Bu Ai memiliki karakter tersendiri. Produk ini bukan sekadar camilan, melainkan bagian dari usaha tradisional yang terus dipertahankan dari generasi ke generasi.
Baca Juga:Inflasi Naik Jadi 3,28 Persen, Mendagri Minta Daerah Perkuat Pengendalian Harga PanganSiswi SMK Tasikmalaya yang Hilang 6 Hari Ditemukan di Lantai 33 Apartemen Tangerang
Kerupuk tersebut juga memiliki pola pemasaran yang berbeda dari produk sejenis yang banyak dijumpai di warung. Bu Ai dan para penjualnya memasarkan kerupuk secara langsung kepada konsumen, dari rumah ke rumah.
