Cara ini membuat hubungan antara penjual dan pelanggan menjadi bagian penting dari keberlangsungan usaha.
Jangkauan pemasarannya tidak hanya di sekitar tempat produksi. Kerupuk tersebut telah dipasarkan hingga Riung Bandung dan sejumlah kawasan lain. Meski begitu, Bu Ai mengakui bahwa kondisi pemasaran saat ini tidak lagi sama seperti dahulu.
Penjualan dilakukan secara fleksibel. Pembeli dapat menyesuaikan jumlah kerupuk dengan kebutuhan dan uang yang mereka miliki. Ada yang membeli seharga Rp5.000, Rp10.000, hingga kemasan dengan harga Rp20.000.
Baca Juga:Kondisi Remaja Hilang Asal Tasikmalaya Berangsur Membaik, Polisi Ungkap Fakta Nama Fiktif di Apartemen PIK 2Ekspor Benih Lobster Disetop Permanen, Pemerintah Genjot Budi Daya di dalam Negeri
Pola penjualan langsung tersebut membuat kerupuk Bu Ai tetap memiliki jalur pemasaran tersendiri, berbeda dari kerupuk kemasan yang dipasarkan melalui warung-warung.
Ketika ditanya bagaimana menghadapi persaingan usaha saat ini, Bu Ai tidak berbicara panjang lebar mengenai strategi bisnis, perluasan pasar, atau peningkatan kapasitas produksi.
Jawabannya sederhana: menikmati apa yang dijalani dan bersyukur.
“Ya, dinikmati saja. Bersyukur saja,” katanya.
Bagi Bu Ai, keberlangsungan usaha bukan semata-mata soal seberapa banyak produk yang bisa dihasilkan atau seberapa luas pasar yang dapat dijangkau. Ada pula kepuasan karena usaha telah dijalani selama bertahun-tahun dan kebutuhan keluarga telah terpenuhi.
Sikap itu tercermin dari caranya menyikapi perubahan. Ketika lahan berkurang, produksi disesuaikan. Ketika cuaca tidak mendukung, proses pengeringan diakali. Ketika pola pemasaran berubah, penjualan tetap dilakukan dengan cara yang sudah dikenal pelanggan.
Tidak semua hal dapat dikendalikan. Cuaca, misalnya, menjadi faktor yang menentukan kelancaran produksi. Karena itu, Bu Ai memilih menyesuaikan diri daripada memaksakan keadaan.
Perjalanan usaha kerupuk ini juga berkaitan dengan sejarah keluarga. Bu Ai menuturkan bahwa usaha tersebut berawal dari generasi sebelumnya. Keluarganya pernah menjalankan usaha di kawasan Kosambi sebelum aktivitas usaha berkembang di tempat lain. Hingga kini, sejumlah kerabat juga menjalankan usaha serupa di lokasi berbeda. Bagi keluarga Bu Ai, keberadaan mereka bukan semata-mata cabang usaha, melainkan bagian dari hubungan kekeluargaan yang ikut menjaga keberlanjutan usaha tradisional tersebut.
Di tengah perubahan lingkungan dan perkembangan zaman, kerupuk jadul ini masih bertahan dengan mengandalkan proses produksi sederhana serta pemasaran langsung kepada konsumen.
