Kepala SMPN 2 Ngamprah Agus Samsu Permana sebelumnya mengatakan jumlah siswa di sekolah tersebut mencapai 1.163 orang. Dengan alokasi sekitar Rp1 juta per siswa dalam setahun, total dana BOS yang diterima sekolah lebih dari Rp1 miliar.
“Dana BOS per tahun di SMPN 2 Ngamprah sekitar Rp1 miliar lebih. Per siswa nilainya sekitar Rp1 juta dan jumlah siswa kami 1.163 orang,” kata Agus beberapa waktu lalu.
Menurut Agus, dana BOS tidak dicairkan sekaligus dalam satu tahun. Pencairan dilakukan secara bertahap sesuai mekanisme yang berlaku. Bahkan, pada Agustus 2026, sekolah menerima pencairan sekitar Rp600 juta.
Baca Juga:Akses Sekolah Terhambat Waduk, DPRD KBB Dorong Penyeberangan AmanMenyeberangi Saguling Demi Sekolah
“Kami baru menerima dana BOS sekitar Rp600 juta pada Agustus ini,” ujarnya.
Agus mengklaim anggaran BOS telah dialokasikan untuk pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah, khususnya perbaikan yang bersifat ringan.
Penggunaan anggaran tersebut, kata dia, disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan dan dimasukkan dalam perencanaan sekolah. Beberapa fasilitas seperti tempat duduk maupun kunci yang rusak dapat diperbaiki menggunakan dana BOS.
“Untuk perawatan sudah dianggarkan dari BOS. Kami menyesuaikan dengan kebutuhan di lapangan, seperti tempat duduk, kunci yang rusak dan sebagainya,” katanya.
Ia membantah anggapan bahwa sekolah tidak memiliki program pemeliharaan terhadap fasilitas yang mengalami kerusakan.
“Perawatan sebenarnya sudah diprogramkan. Mungkin momennya saja bersamaan dengan adanya sorotan terhadap kondisi sekolah yang saat ini terjadi,” kata Agus.
Sebelumnya, kondisi sarana dan prasarana SMPN 2 Ngamprah viral di media sosial setelah sejumlah bagian fasilitas sekolah ditemukan mengalami kerusakan. Di antaranya plafon ruang kelas yang jebol serta dinding yang mengalami pengelupasan.
Baca Juga:Hari Indonesia Menabung 2026, BRI BO Sukabumi – OJK Kolaborasi Gelar Edukasi Literasi Keuangan di SekolahDisdik Cimahi Evaluasi Polemik Seragam Sekolah, 7 SMP Negeri Belum Sosialisasi
Kondisi tersebut disebut sempat mengganggu kenyamanan siswa dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar. Bahkan, sejumlah perbaikan kecil disebut dilakukan atas inisiatif siswa karena kerusakan fasilitas dinilai mengganggu aktivitas di lingkungan sekolah. (Wit)
