Ekoenzim, Solusi Hemat dengan Limbah Bermanfaat

Memilah sampah
Warga Desa Benteng mengikuti pelatihan memilah dan mengolah sampah serta membuat cairan fermentasi limbah organik ekoenzim di Desa Benteng, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor. (ANTARA/Fransiska Ninditya)
0 Komentar

Masalah sampah bisa menjadi bom waktu apabila tidak segera ditangani. Guna meminimalkan risiko akibat penumpukan sampah di TPA Galuga, salah satu desa di Kabupaten Bogor berupaya mengolah sampah organik dari rumah warga untuk menjadi hal lebih bermanfaat.

Di Desa Benteng, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, masyarakat antusias untuk mengolah sampah organik mereka menjadi ekoenzim, cairan fermentasi yang diproduksi dari limbah organik ampas buah dan sayuran dengan ditambah molase atau air gula.

Sebelum mengolah sampah organik, masyarakat perlu memilah sampah dari rumah mereka dengan memisahkan limbah organik dan anorganik terlebih dahulu. Sampah organik dari rumah tangga itu kemudian yang dapat dikumpulkan untuk dijadikan cairan ekoenzim.

Baca Juga:Satu Klik Menguji KepercayaanMotor Listrik Nasional Karya Anak Negeri

Dalam pelatihan ekoenzim di Desa Benteng pada akhir Juli lalu, sekira 40 orang, yang sebagian besar merupakan ibu rumah tangga di desa itu, mendapat pengetahuan baru tentang membuat ekoenzim.

Dengan didampingi penyuluh pertanian dari Dinas Ketahanan Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (Distanhorbun) Pemkab Bogor serta pegiat ekoenzim dari Komunitas Eco-enzyme Nusantara Bogor Raya, para ibu rumah tangga di Desa Benteng membuat carian ekoenzim dan disimpan di rumah mereka masing-masing.

Nantinya, setelah tiga hingga empat bulan, cairan ekoenzim itu dapat digunakan sebagai obat luka dan sanitasi udara ruangan. Bahkan, cairan ekoenzim bisa untuk membuat sabun cuci piring dan sabun cuci baju dengan ditambahkan methyl esther sulfonate (MES) dan biang sabun atau garam.

Tati, seorang ibu berusia 54 tahun yang sehari-hari berkebun, mengaku baru pertama kali mengenal ekoenzim. Dia memang selalu memproduksi sampah organik di rumahnya, yang biasanya dia buang ke tempat sampah lalu dibakar. Tati mengatakan tidak sulit untuk membuat cairan ekoenzim dari sampah organik. Setelah membuat cairan ekoenzim dalam pelatihan tersebut, Tati merasa tidak sabar untuk menunggu cairan fermentasi sampah organik yang dia buat dapat berhasil menjadi ekoenzim.

“Kalau soal cairan ekoenzim, saya baru tahu dan baru pertama kali ini, ternyata gampang membuatnya. Nanti kalau sudah jadi, mau saya pakai untuk menyemprot tanaman. Di rumah saya memang selalu ada sampah dari kulit buah dan sayuran. Jadi, nanti saya mau coba bikin,” kata Tati.

0 Komentar