Ekoenzim, Solusi Hemat dengan Limbah Bermanfaat

Memilah sampah
Warga Desa Benteng mengikuti pelatihan memilah dan mengolah sampah serta membuat cairan fermentasi limbah organik ekoenzim di Desa Benteng, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor. (ANTARA/Fransiska Ninditya)
0 Komentar

Sebagian besar masyarakat di Desa Benteng memang berkegiatan sebagai petani kebun untuk tanaman palawija, seperti singkong, jagung, kacang, dan jambu. Neneng (56 tahun) telah memilah sampah di rumahnya sejak tahun 2019 setelah mendapat penyuluhan untuk memisahkan sampah organik dan anorganik. Hanya saja, selama ini Neneng hanya mengolah sampah organik dari rumahnya untuk menjadi maggot sebagai pakan ikan dan ayam yang dia pelihara.

“Maggot di kolam ikan saya banyak sekali, sampai menumpuk. Bahkan, saking banyaknya maggot yang sudah ada, sampah sisa buah dan sayur dari dapur saya buang begitu saja. Dengan pelatihan (membuat) ekoenzim ini, saya jadi tahu ada cara lain untuk mengolah sampah organik,” kata Neneng.

Membuat ekoenzim tidaklah sulit karena hanya memerlukan tiga bahan, yakni sampah organik dari sisa kulit buah dan sayur, molase atau air gula, serta air, masing-masing dengan perbandingan 3:1:10. Sehingga, dengan sisa kulit buah dan sayur seberat 300 gram, maka perlu ditambah dengan molase sebanyak 100 gram dan air satu liter.

Baca Juga:Satu Klik Menguji KepercayaanMotor Listrik Nasional Karya Anak Negeri

Semua bahan itu lalu dimasukkan ke dalam wadah plastik bertutup rapat dan jangan menggunakan wadah kaca, karena fermentasi ekoenzim menghasilkan gas. Sebaiknya, wadah plastik yang dipakai agak lebih besar supaya masih ada ruang untuk gas hasil fermentasi. Seminggu pertama setelah memasukkan semua bahan tersebut ke dalam wadah plastik, sebaiknya tutupnya dibuka sesekali untuk melepaskan gas hasil fermentasi. Kemudian, setelah tiga bulan, cairan ekoenzim tersebut sudah dapat digunakan.

Pelatihan membuat ekoenzim, yang menjadi bagian dari kegiatan Sustainable Journalism Fellowship 2026 oleh CIMB Niaga bersama Indonesian Institute of Journalism, menjadi sangat bermanfaat bagi ibu-ibu di Desa Benteng itu. Salah satu penyuluh di Desa Benteng Titik Mulyati mengatakan pernah memberikan pelatihan serupa dengan dibantu pegiat ekoenzim Siti Maryam.

“Sudah pernah membuat ekoenzim yang biasanya dimanfaatkan untuk mengobati luka, menyemprot tanaman; justru ini ilmu baru karena ternyata cairan ekoenzim bisa untuk membuat sabun cuci piring dan sabun cuci baju. Mudah-mudahan ini bisa diaplikasikan oleh ibu-ibu di Desa Benteng,” ujar Titik.

0 Komentar