Ekoenzim, Solusi Hemat dengan Limbah Bermanfaat

Memilah sampah
Warga Desa Benteng mengikuti pelatihan memilah dan mengolah sampah serta membuat cairan fermentasi limbah organik ekoenzim di Desa Benteng, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor. (ANTARA/Fransiska Ninditya)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Indonesia masih menghadapi tantangan dalam pengelolaan sampah dengan baik, yang menyebabkan kondisi di tempat pembuangan akhir sampah (TPAS) terdapat penumpukan dan timbunan sampah.

Banyak hal menjadi penyebab menumpuknya sampah, antara lain peningkatan populasi, perubahan gaya hidup masyarakat, hingga ketiadaan sistem pengolahan limbah yang belum memadai. Tingginya pertumbuhan penduduk dan banyaknya urbanisasi menyebabkan tingkat konsumsi masyarakat juga mengalami peningkatan.

Kemudian, kebiasaan membeli makanan, daripada memasak sendiri di rumah, menjadi lebih praktis dan menyisakan sampah plastik pembungkus, hingga sampah sisa makanan. Apabila pertumbuhan jumlah penduduk dan gaya hidup masyarakat sulit untuk dikendalikan, maka menciptakan ekosistem pengolahan limbah menjadi pemberi harapan pasti untuk mengatasi masalah sampah.

Baca Juga:Satu Klik Menguji KepercayaanMotor Listrik Nasional Karya Anak Negeri

Menurut data Sistem Informasi Pengolahan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), angka sampah nasional mencapai angka 31,9 juta ton di tahun 2023. Dari jumlah sampah tersebut, sebanyak 11,3 juta ton di antaranya atau sekitar 35,6 persen tidak dapat dikelola.

Penumpukan sampah tak terkelola itu berisiko tinggi akan longsor dan kebakaran akibat gas metana yang diproduksi sampah-sampah organik di TPA. Bencana akibat menumpuk sampah begitu saja tanpa dikelola dengan benar, atau disebut juga open dumping, kerap terjadi.

Pada Juni lalu, kebakaran besar terjadi di TPA Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten, hingga menyebabkan ratusan warga mengungsi dan terpapar infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Kebakaran terjadi di hampir separuh dari luas TPA tersebut karena akumulasi gas metana dari sampah organik di tempat pembuangan itu terpantik oleh cuaca panas. Pemadamannya pun memerlukan waktu yang tidak singkat, yakni lebih dari 10 hari.

Penumpukan sampah di TPA juga menjadi risiko di Bogor. Sampah produksi rumah tangga di Kabupaten Bogor dan Kota Bogor dialihkan ke TPA Galuga, yang setiap hari menampung hingga sekitar 2.000 ton sampah dari dua daerah tersebut. Hingga kini, diperkirakan sudah ada 15 juta ton sampah yang tidak terolah di TPA seluas 31,8 hektare itu. TPA Galuga, bahkan pernah longsor di tahun 2019 hingga menyebabkan 18 warga kehilangan lahan pertanian dan aset mereka.

0 Komentar