Pendekatan tersebut salah satunya diwujudkan dengan memberikan kesempatan kepada ibu untuk memberikan kolostrum dan ASI sedini mungkin. Proses ini tentu tidak selalu mudah karena bayi prematur dapat menghadapi berbagai kondisi dan tantangan selama menjalani perawatan di NICU.
Namun, keterlibatan keluarga dinilai menjadi bagian penting dalam membangun proses perawatan yang lebih menyeluruh.
“Setiap kehamilan membawa harapan. Ketika bayi lahir prematur, harapan itu tidak boleh berhenti. Ilmu kedokteran terus berkembang, tetapi hasil terbaik hanya dapat dicapai ketika tenaga kesehatan dan keluarga berjalan bersama mendampingi setiap bayi,” ujar Prof. dr. Tono.
Baca Juga:Komunitas Bike to Work Deklarasikan Nyapeda Nyakola, Dorong Jalur Sepeda Aman untuk Pelajar di BandungBambu Lab Resmi Hadir di Bandung, Buka Creative Hub Offline Pertama di Jawa Barat
Orang Tua Bukan Sekadar Pengunjung NICU
Salah satu gagasan penting yang diangkat dalam buku “Bayi Prematur Menjemput Harapan” adalah Family Integrated Care atau FICare.
Konsep ini menjadi bagian dari perubahan paradigma dalam pelayanan neonatologi. Orang tua tidak lagi sekadar diposisikan sebagai pengunjung yang menunggu di luar ruang perawatan, melainkan dilibatkan sebagai mitra tenaga kesehatan setelah mendapatkan edukasi dan pendampingan yang sesuai.
Keterlibatan tersebut diharapkan dapat memperkuat hubungan antara orang tua dan bayi sekaligus membantu keluarga memahami kebutuhan anaknya sejak berada di NICU.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan keluarga dalam perawatan bayi prematur berpotensi memberikan sejumlah manfaat, mulai dari membantu kestabilan kondisi bayi, mendukung peningkatan berat badan, memperkuat ikatan emosional orang tua dan bayi, hingga memberikan dampak positif terhadap perkembangan jangka panjang.
“Teknologi membantu bayi bertahan hidup. Namun, kehadiran keluarga membantu mereka bertumbuh. Ketika orang tua menjadi bagian dari proses perawatan, manfaatnya dapat dirasakan jauh setelah bayi meninggalkan NICU,” jelas Dr. dr. Tetty.
Pesan tersebut sekaligus menegaskan bahwa keberhasilan perawatan bayi prematur tidak cukup hanya dilihat dari kemampuan melewati masa kritis.
Ada perjalanan panjang yang harus dilalui setelahnya, termasuk memastikan kebutuhan nutrisi, stimulasi, pemantauan pertumbuhan dan perkembangan, serta dukungan emosional tetap terpenuhi.
Baca Juga:Scale Up Lebih Cepat, FAS Tawarkan Solusi Operasional End-to-End untuk Brand di IndonesiaRoad to Give 2026 Kembali Digelar di Bandung, Ajak Masyarakat Berlari untuk Pejuang Kanker
Pulang dari NICU Bukan Akhir Perjuangan
Ketika bayi prematur dinyatakan cukup stabil dan diperbolehkan pulang, keluarga akan menghadapi fase baru yang tidak kalah penting.
