JABAR EKSPRES – Kota Bandung dikenal sebagai salah satu kota besar dengan perkembangan permukiman dan aktivitas ekonomi yang pesat. Namun, di balik geliat pembangunan tersebut, persoalan dasar seperti akses terhadap air bersih masih menjadi tantangan bagi sebagian warga.
Kondisi ini menunjukkan bahwa status sebagai kota besar tidak selalu menjamin seluruh masyarakat dapat dengan mudah memperoleh kebutuhan dasar, termasuk air bersih.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengatakan salah satu persoalan yang dihadapi warga berkaitan dengan kondisi geografis permukiman dan sumber mata air. Sejumlah kawasan permukiman berada pada posisi yang lebih tinggi dibandingkan sumber air, sehingga air tidak mudah dialirkan kepada masyarakat.
Baca Juga:Kemarau Mulai Berdampak, BPBD Kabupaten Bandung dan PMI Distribusikan 15 Ribu Liter Air Bersih di ArjasariBandung Belum Tetapkan Status Darurat Kekeringan, Farhan Pastikan Distribusi Air Bersih Terus Berjalan
Selain itu, kedalaman sumber air juga menjadi kendala. Farhan menyebut kedalaman sumber air di sejumlah lokasi bahkan dapat mencapai sekitar 100 meter.
“Harus diakui karena memang kedalamannya terlalu jauh, bahkan kadang-kadang sampai 100 meter,” ujar Farhan, Rabu (19/8/2026).
Menurut Farhan, keberadaan mata air di suatu kawasan tidak serta-merta membuat air tersebut dapat langsung dimanfaatkan oleh seluruh warga. Faktor elevasi dan kedalaman sumber air membuat proses pengambilan hingga distribusi membutuhkan teknologi, infrastruktur, serta biaya yang tidak sedikit.
Pengamat tata kota dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Yudi Asep, menilai persoalan tersebut harus menjadi perhatian serius dalam pengelolaan kota.
Menurutnya, pembangunan Bandung tidak cukup hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, maupun kepadatan aktivitas perkotaan, tetapi juga dari kemampuan pemerintah menjamin kebutuhan dasar masyarakat.
“Bandung sebagai kota besar seharusnya tidak hanya bicara soal gedung, jalan, transportasi, dan pusat ekonomi. Air bersih merupakan bagian paling mendasar dari pelayanan perkotaan,” ujar Yudi.
Yudi mengatakan kondisi geografis Bandung yang memiliki kontur wilayah berbeda-beda harus menjadi pertimbangan dalam perencanaan tata ruang dan penyediaan infrastruktur air.
Baca Juga:Permintaan Air Bersih di Kabupaten Bandung Barat Naik Selama Kemarau27 Kecamatan Siaga Kekeringan, Pemkab Bandung Siapkan Toren Air hingga Pompa Sawah
Pemerintah perlu memetakan wilayah yang memiliki keterbatasan akses air dan menyiapkan sistem distribusi yang sesuai dengan karakteristik kawasan.
“Kalau sumber air berada di bawah dan permukiman berada di atas, tentu ada persoalan teknis. Tetapi itu bukan berarti masalahnya selesai dengan mengatakan sumber airnya ada. Yang harus dipikirkan adalah bagaimana air tersebut bisa sampai kepada warga secara aman, berkelanjutan, dan terjangkau,” katanya.
