Warga Ciptaharja Tolak Eksplorasi Tambang di Gunung Guha dan Leuweung Hideung

Warga Ciptaharja Tolak Eksplorasi Tambang di Gunung Guha dan Leuweung Hideung
Ilustrasi: Warga saat memperlihatkan Gunung Guha di wilayah Kecamatan Cipatat, Bandung Barat. Dok Jabar Ekspres/Suwitno
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Aliansi Warga Ciptaharja Tolak Tambang Gunung Guha Leuweung Hideung mengecam aktivitas pengeboran di kawasan Gunung Guha, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Warga menilai eksplorasi tersebut berpotensi merusak kawasan karst, mengganggu sumber mata air, serta mengancam ruang hidup masyarakat.

Penolakan mengemuka setelah video aktivitas pengeboran menggunakan mesin berukuran besar beredar di media sosial. Dalam rekaman tersebut terlihat sejumlah pekerja mengoperasikan alat bor di kawasan perkebunan sekitar Gunung Guha dan Leuweung Hideung.

Baca Juga:Video Pengeboran Gunung Guha KBB Viral, ESDM Jabar Pastikan Masih Tahap Eksplorasi Tambang Batu GampingSelain Industri, Truk Pengangkut Tambang Turut Menyumbang Polusi Udara di Padalarang-Cipatat 

“Kami menduga kegiatan itu berkaitan dengan eksplorasi untuk rencana pertambangan batu gamping atau batu kapur,” ujar Koordinator Aliansi Warga Ciptaharja Tolak Tambang Gunung Guha Leuweung Hideung, Syaeful Irfan, saat dihubungi, Kamis (30/7/2026).

Syaeful mengatakan kawasan Gunung Guha dan Leuweung Hideung selama ini memiliki fungsi ekologis yang sangat penting sebagai daerah tangkapan air.

“Gunung Guha Leuweung Hideung merupakan gentong air bagi masyarakat. Struktur batuan karst dan tutupan pepohonan di kawasan ini menyimpan cadangan air yang menjadi sumber kehidupan warga,” kata Syaeful.

Ia menjelaskan sedikitnya terdapat lima mata air besar yang bersumber dari kawasan tersebut, yakni Mata Air Cipaneguh, Pasir Sepat, Cisaladah, Ciketung, dan Cijawer. Mata air itu dimanfaatkan masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari sekaligus mengairi lahan pertanian.

Menurutnya, sumber air tersebut digunakan warga di Kampung Pojok, Cijuhung, Sirnagalih, Cibiru, Cibarengkok, Gunungbatu, Sawah Lega, Cileat, Talun, dan Cioray di Desa Ciptaharja. Sebagian warga Desa Cipatat juga bergantung pada pasokan air dari kawasan itu.

“Kalau kawasan ini dibuka untuk pertambangan, kami khawatir mata air akan terganggu. Dampaknya bukan hanya terhadap lingkungan, tetapi juga terhadap kehidupan masyarakat dan sektor pertanian yang selama ini bergantung pada sumber air tersebut,” tegasnya.

Selain mengancam terhadap sumber air, Syaeful menilai aktivitas pertambangan berpotensi mengurangi lahan pertanian yang menjadi sumber penghidupan masyarakat.

Baca Juga:Warga Citatah Gagal Desak Pengalihan Jalur, Truk Tambang Tetap Lewat PermukimanWarga Citatah Minta Dedi Mulyadi Tutup Jalur Truk Tambang yang Masuk Permukiman

“Perubahan bentang alam akibat eksploitasi batuan karst juga dikhawatirkan meningkatkan risiko bencana ekologis, seperti kekeringan, banjir, dan longsor,” katanya.

0 Komentar