Warga Masih Keluhkan Debu, Kades Ciburuy Desak PT Kurnia Marmer Ambil Langkah Konkret

Warga Masih Keluhkan Debu, Kades Ciburuy Desak PT Kurnia Marmer Ambil Langkah Konkret
Puluhan emak-emak saat menggeruduk PT Kurnia Marmer di Jalan Raya Padalarang-Cianjur, Desa Ciburuy, Kecamatan Padalarang, KBB. Dok Jabar Ekspres/Suwitno
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Persoalan debu yang diduga berasal dari aktivitas PT Kurnia Marmer, Kabupaten Bandung Barat (KBB) masih menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan.

Keluhan warga terhadap pencemaran yang diduga berasal dari operasional pabrik tersebut hingga kini masih terus bermunculan.

Kepala Desa Ciburuy, Firmansyah, mengatakan masyarakat kini menunggu langkah konkret dari perusahaan untuk mengurangi dampak pencemaran.

Baca Juga:Video Pengeboran Gunung Guha KBB Viral, ESDM Jabar Pastikan Masih Tahap Eksplorasi Tambang Batu GampingDalam Sehari, Tiga Kebakaran Lahan Terjadi di Tiga Kecamatan Bandung Barat

“Persoalan utama yang dikeluhkan warga saat ini bukan lagi pembangunan benteng perusahaan, melainkan debu yang dinilai mengganggu aktivitas dan kenyamanan warga di sekitar pabrik,” ujar Firmansyah, Rabu (29/7/2026).

Ia menjelaskan, persoalan mengenai pembangunan benteng perusahaan pada dasarnya menemukan titik temu. Mayoritas warga telah memberikan persetujuan setelah dilakukan dialog antara perusahaan, pengurus lingkungan, dan masyarakat.

“Saat ini, hanya tersisa satu usulan terkait penyediaan fasilitas umum berupa lapangan voli di wilayah RT 01 RW 11 yang masih dalam tahap pembahasan,” katanya.

Firmansyah menuturkan, perhatian masyarakat kini beralih pada dugaan dampak lingkungan akibat aktivitas operasional PT Kurnia Marmer. Selain debu, warga juga mengeluhkan getaran mesin yang disebut kerap dirasakan hampir setiap hari.

Menurut dia, belakangan muncul laporan adanya warga yang mengalami gangguan kesehatan dan diduga berkaitan dengan paparan debu. Namun, pemerintah desa belum dapat menyimpulkan adanya hubungan langsung antara keluhan kesehatan tersebut dengan aktivitas perusahaan karena masih memerlukan pembuktian secara medis.

“Kami tidak bisa langsung menyimpulkan. Harus ada keterangan medis yang memastikan apakah kondisi itu memang dipengaruhi aktivitas perusahaan atau ada faktor lain,” katanya.

Ia mengatakan, persoalan kesehatan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam dialog antara warga dan manajemen perusahaan. Bahkan, perusahaan disebut membuka peluang untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut guna memastikan penyebab keluhan masyarakat.

Baca Juga:Permintaan Air Bersih di Kabupaten Bandung Barat Naik Selama KemarauBandung Barat Krisis Guru PNS, DPRD Desak Moratorium Mutasi Antar Daerah Dicabut

Di sisi lain, Firmansyah menilai upaya pengendalian debu yang dilakukan perusahaan masih belum optimal. Selama ini, penanganan yang terlihat baru sebatas penyiraman di area internal pabrik, sementara debu yang menyebar ke lingkungan permukiman warga dinilai belum tertangani secara maksimal.

Pemerintah Desa Ciburuy, lanjutnya, akan terus mengawal perusahaan agar melakukan pembenahan terhadap sistem produksi maupun pengendalian pencemaran yang dimiliki.

0 Komentar